JAKARTA, KOMPAS.com - Benar kata Komaruddin Hidayat, anggota Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum atas kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, atau Tim Delapan. Mengikuti kasus Bibit-Chandra bak membaca novel Agatha Christie saja. Setiap waktu, selalu ada kejutan dimana-mana.
Pada pemeriksaan terhadap Kabareskrim nonaktif Komjen Pol Susno Duadji oleh Tim Delapan, Jumat (6/11) sore di Gedung Dewan Pertimbangan Presiden, Jakarta, terungkap fakta menarik. Perwira tinggi di Mabes Polri tersebut ternyata mengetahui bahwa telepon genggamnya telah disadap KPK. Tahu disadap dan hendak dijebak, Susno malah balik menjebak para penyidik yang tidak lain adalah yuniornya.
"Dia (Susno) sengaja melakukan kontra intelijen untuk melatih adik-adiknya yang ada di KPK. (Susno) seolah-olah memang beneran akan menerima uang," ujar Ketua Tim Delapan Adnan Buyung Nasution kepada para wartawan di Gedung Wantimpres, Jakarta, ketika membeberkan beberapa poin hasil pertemuannya dengan Susno.
"Tibalah pada peristiwa di samping Hotel Ambhara. Di sana, dia seolah-olah menerima uang. Dia bilang, 'Bawa aja tasnya. Kita tukar'. Padahal, Susno mengaku tas itu kosong," tambah Adnan.
Ditambahkan Susno, seperti yang dituturkan Adnan, "Ini buat pelajaran juga bagi mereka (KPK) yang menyadap." Benarkah demikian? "Itu hanya bisa dijawab oleh Susno langsung," ujar Todung Mulya Lubis, anggota Tim Delapan lainnya.
Hingga saat ini, masing-masing pihak saling mengklaim bahwa pihaknya yang paling benar. Namun, Adnan mengatakan, semuanya akan menjadi jelas pada gelar perkara yang diadakan di Wantimpres esok.