Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 14:57 WIB
Mereka dan Kota Buaya...
Heru Margianto | mbonk | Jumat, 6 November 2009 | 10:10 WIB
|
Share:

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Patung ikan hiu (suro) dan buaya (boyo) yang terletak di dekat terminal bus Joyoboyo, Surabaya, ini dimaksudkan melambangkan kota Surabaya.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri (nonaktif) Komjen Pol Susno Duaji pernah menelurkan istilah "cicak melawan buaya" terkait perseteruan antara Polisi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Secara tidak langsung, ia menyiratkan, KPK adalah "cicak" dan polisi adalah "buaya".

Entah, apa alasan Susno menggunakan istilah ini. Kenapa ia tidak menggunakan istilah "Samson melawan Goliat", atau "gajah melawan kambing", atau "komodo melawan kadal". Cuma Susno yang tahu.

Istilah "cicak" dan "buaya" yang meluncur dari mulut Susno kemudian amat populer digunakan masyarakat sebagai analogi ketegangan dua institusi itu. Di akar rumput, gelombang dukungan terhadap KPK meluas. Barisan pendukung KPK mengartikan "cicak" sebagai "Cinta Indonesia Cinta KPK".

Layaknya sinetron, alur ketegangan antara kepolisan dan KPK perlahan naik setahap demi setahap. Imbasnya bahkan meluas di tengah masyarakat yang terus menerus menyebut-nyebut kata "cicak" dan "buaya". Mungkin, demi meredam ketegangan yang dinilai tidak produktif, Kepala Polri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri akhirnya meminta maaf atas pernyataan Susno mengenai "cicak" dan "buaya". "Itu pernyataan oknum," kata Bambang.

Pada satu titik dalam drama perseteruan ini diputarlah rekaman KPK yang diduga merupakan percakapan dalam upaya pelemahan KPK. Cakram padat berisi percakapan Anggodo Widjojo, adik buronan KPK Anggoro Widjojo, dengan sejumlah orang diperdengarkan dalam sidang Mahkamah Konstitusi dalam rangkaian sidang uji materil atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK yang diajukan Bibit dan Chandra.

Pascadiputarnya rekaman ini ketegangan dua institusi seolah menggelinding bak bola liar. Tidak kurang 18 nama disebut-sebut dalam percakapan. Di antara 18 nama itu terdapat enam nama yang menjadi perhatian masyarakat. Mereka adalah Susno Duaji (Kabareskrim Mabes Polri, dinonaktifkan sementara), Wisnu Subroto (mantan Jamintel), Abdul Hakim Ritonga (Wakil Jaksa Agung, telah mengundurkan diri), Ong Yuliana Gunawan, Anggoro Widjojo (Direktur PT Masaro Radiokom, buronan KPK), dan Anggodo Widjojo (adik Anggoro, pelaku utama percakapan).

Menarik untuk melihat jejak keenam orang itu. Semuanya memiliki hubungan dengan ibukota Jawa Timur, Surabaya. Kakak beradik Anggoro dan Anggodo adalah pengusaha asal Surabaya Jawa Timur. Dalam rekaman KPK, Anggodo beberapa kali menggunakan bahasa Jawa Timur dalam percakapan dengan sejumlah orang. Selanjutnya, Ong Yuliana Gunawan yang diduga sebagai orang yang menyebut-nyebut nama "SBY" dalam percakapannya dengan Anggodo dikenal sebagai tukang pijat saraf. Ia pernah dipenjara dalam kasus narkoba di Surabaya.

Sementara itu, tiga pejabat institusi penegak hukum yang disebut-sebut dalam rekaman pun pernah menjejakkan kakinya di Kota Buaya dalam rekam jejak karir mereka. Susno Duaji pernah menjadi Wakil Kepala Kapolwiltabes Surabaya pada tahun 1999-2001. Abdul Hakim Ritonga pernah bertugas di Kejaksaan Negeri Tanjuk Perak, Surabaya. Begitu pula Wisnu Subroto. Ia pernah bertugas di Kejaksaan Negeri Surabaya.

Kota Surabaya sudah lama dikenal sebagai Kota Buaya jauh sebelum peristiwa ini. Menurut legenda tentang asal-usul nama Surabaya, buaya dikisahkan bertarung melawan sura (ikan hiu), bukan cicak.