
JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah pesimisme publik terhadap hasil kinerja Tim Delapan ke depan, salah satu anggota tim Todung Mulya Lubis bertekad agar tim ini tidak berfungsi hanya layaknya pemadam kebakaran.
"Tim ini sering dibentuk seperti pemadam kebakaran. Tapi kita tidak mau. Tim ini harusnya tidak hanya memverifikasi Chandra dan Bibit ansih, tapi lihat end goal yang lebih strategis," tuturnya dalam pertemuan tim dengan para pemimpin media massa di Hotel Nikko, Rabu (4/11).
Todung mengatakan, pemutaran rekaman yang diduga berisi upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Mahkamah Konstitusi (MK) kemarin harusnya sudah membuka mata masyarakat bahwa mafia peradilan itu masih eksis yang berujung pada bobroknya penegakan hukum Indonesia.
"Penegakan hukum itu harusnya adalah harta yang tidak bisa ditawar. Tadi ketemu dengan Kapolri bahwa setelah mendengar Anggodo dalam rekaman, kita sepakat merasa terhina," lanjutnya.
Anggota tim lainnya, Anies Baswedan, juga sepakat bahwa tim tak akan hanya berkutat pada persoalan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. "Karena banyak problem dalam case ini, baik meliputi reformasi penegakan hukum, maupun skandal-skandal yang potensial untuk eksplosif," ujar Rektor Universitas Paramadina ini.