KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Kenaikan Gaji Menteri Mempertajam Ketidakadilan
Kamis, 29 Oktober 2009 | 20:45 WIB
Kompas/Alif Ichwan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono berfoto bersama dengan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II di tangga Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (22/10), seusai pengambilan sumpah jabatan di Istana Negara.
TERKAIT:

PADANG, KOMPAS.com — Rencana pemerintah menaikkan gaji menteri dan pejabat tinggi lainnya dinilai akan mempertajam rasa ketidakadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Selain itu, kenaikan gaji tersebut juga tak memiliki dasar rasionalitas yang kuat.

Dasar kenaikan gaji tersebut tak rasional dan kurang pantas di saat bangsa ini tengah menghadapi beragam bencana, serta masih banyak rakyat yang hidup miskin. "Jika dilaksanakan, hanya akan mempertajam rasa ketidakadilan," ujar Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, Kamis (29/10).

Alasan beban kerja serta upaya mendorong kinerja yang menjadi dasar kenaikan gaji, menurut Mestika, sangat parsial. Semestinya dalam penentuan kenaikan gaji pejabat tinggi lebih dilihat dalam aspek yang luas.

Bila alasannya demikian, mengapa bukan pegawai di strata bawah yang dinaikkan agar mereka menaikkan kinerjanya. "Kenyataannya, hal itu tak dilakukan," kata dia.

Selama ini tak ada patokan yang jelas mengenai standar penggajian pejabat di Indonesia. Bila saja standar penggajian tersebut ada, alasan beban kerja tak perlu dikemukakan karena semakin tinggi beban kerja, sesuai aturan sudah ada kenaikan secara otomatis.

Argumen klasik yang kerap dikemukakan pejabat terkait rencana kenaikan gaji tersebut adalah telah dianggarkannya kenaikan gaji itu dalam tahun anggaran sebelumnya. "Ini alasan yang tak masuk akal. Toh, yang membuat anggaran juga manusia, bukan malaikat. Artinya, itu kan bisa dihapus," ucap dia.

Penulis: HAN   |   Editor: Abd Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.