Kamis, 31 Juli 2014

News / Nasional

Politisi Muda PPP Jateng Usul Lambang Kabah Diganti

Kamis, 29 Oktober 2009 | 17:57 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Eksistensi masa depan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ke depan, dinilai politisi muda partai berlambang Kabah di Jawa Tengah, semakin terancam. Oleh karena itu, perlu dilakukan reposisi lambang Kabah sebagai gambar PPP dan kalau perlu diganti gambar bumi atau gambar bintang.

Permintaan merubah gambar Kabah itu disampaikan politisi muda asal Rembang, Jawa Tengah, H Abdul Azis, Kamis (29/10) di Semarang. Sebagai juru bicara pengurus cabang PPP di Jateng seperti Rembang, Kebumen, Semarang, Pekalongan dan Magelang, Abdul Azis menilai, usulan itu wajar dan secepatnya akan disampaikan melalui surat resmi ke ke DPP PPP.

"Politisi muda di PPP sangat menghargai dan menghormati PPP menggunakan lambang Kabah. Sebagai rumah suci, Kabah disadari akhirnya terlalu suci sebagai lambang partai politik yang tujuannya lebih banyak untuk kepentingan duniawi semata," kata Abdul Azis yang juga Ketua DPC PPP Kabupaten Rembang.

Politisi muda PPP lainnya, Masruhan Samsurie menambahkan, maraknya kasus perbuatan tercela politisi, termasuk politisi PPP juga bertahannya indeks prestasi DPR sebagai lembaga terkorup di negeri telah mempertajam argumentasi reposisi lambang Kabah sebagai asas PPP. Dampaknya, penurunan perolehan suara PPP sangat siginifikan dengan meningkatnya perbuatan tercela para politisi.

Masruhan mengungkapkan, secara nasional perolehan suara PPP pada pemilu legislatif 2009 melorot di urutan enam. PPP hanya marup 5,5 juta suara menempatkan 39 kursi di DPR. Jumlah ini jauh dibanding pemilu 2004 yang mampu mempertahankan 58 kursi di DPR RI.

Di Jawa Tengah, PPP terancam jadi parpol bonsai setelah hasil pemilu 2009 hanya mendulang 926.938 suara atau meraih tujuh kursi. Jumlah ini berkurang lebih 600.000 suara dibanding pemilu 2004 yang bisa menempatkan 10 kursi di DPRD Jateng.

"Jangan ditanya soal peluang kursi di kabupaten dan kota, yang ada hanya dapat satu kursi di legislatif lokalnya," ujar Masruhan Samsurie.


Editor : wah