JAKARTA, KOMPAS.com — Akhir bulan, posisi rupiah makin goyah. Aksi ambil untung (profit taking) di pasar saham dan penguatan dollar AS akibat kenaikan permintaan berpeluang menekan rupiah.
Berdasarkan kurs tengah BI kemarin, rupiah melemah 0,15 persen, turun ke Rp 9.562 per dollar AS. Keluarnya dana asing berjangka pendek (hot money) berandil pada penurunan rupiah. Kemarin, asing membukukan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 63 miliar.
Kepala Market Tresury ANZ Panin Willing Bolung memperkirakan, koreksi terhadap rupiah akan berlangsung hingga seminggu ke depan. "Kita harus waspada jika rupiah terus terkoreksi dan menembus kisaran Rp 9.600-Rp 9.700 karena bisa turun lebih dalam," katanya, kemarin.
Toh, Willing optimistis rupiah bisa menguat lagi dan berada di level Rp 9.300 per dollar AS pada akhir tahun. "Sebab, dollar AS masih dalam tren pelemahan," ujarnya.
Kepala Riset Ekonomi BI Juniman melihat, pelemahan rupiah pada akhir bulan merupakan hal lumrah. Permintaan dollar AS memang selalu meningkat pada akhir bulan sehingga menaikkan nilai dollar AS.
Willing dan Juniman sepakat, sepekan ini rupiah akan terkoreksi. Hari ini, mereka meramalkan rupiah akan bermain di kisaran Rp 9.500- Rp 9.600 per dollar AS. (Irma Yani/Kontan)
