Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 06:18 WIB
Kabinet Baru Masih Jadi Agen Neoliberal?
Leo Sunu | Edj | Kamis, 22 Oktober 2009 | 15:39 WIB
|
Share:

DHONI SETIAWAN
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono beserta jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II berfoto usai pelantikan di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (22/10).

TERKAIT:

JAKARTA,KOMPAS.com - Kabinet Indonesia Bersatu II yang baru saja dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono rupanya masih menuai kritikan tajam. Kritikan tersebut terutama pilihan-pilihan menteri pada pos-pos di bidang ekonomi yang disinyalir masih terkait erat dengan agenda-agenda neoliberal. 

Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy menilai, Kabinet Indonesia Bersatu II yang telah resmi dilantik masih akan tetap menjadi agen neoliberal dalam kebijakan-kebijakannya dalam waktu-waktu mendatang.

"Dari pilihan orang-orang yang akan duduk di perekonomian, saya menduga ada agenda liberalisasi dan mekanisme pasar yang belum tuntas, dan harus tuntas di era 2009-2014 ," kata Ichsanuddin, Kamis ( 22/10 ), di Jakarta.

Masih adanya agenda neoliberal tersebut, kata Ichsanuddin, sudah terlihat dari beberapa kebijakan-kebijakan ekonomi yang akan masih tetap tidak pro rakyat. Ia mencontohkan sejumlah kebijakan tersebut antara lain, kenaikan tarif elpiji 12 kg yang akan terjadi pada 2010 , rencana kenaikan tarif premium, dan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL). "Bahkan tarif tol yang sudah lebih dulu naik," kata dia.

Menurutnya, kepemimpinan nasional pada 2009-2014 ini masih belum memenuhi kriteria melindungi masyarakat kecil dan lemah. "Di atas kertas masalah kemiskinan dan pengangguran mungkin bisa teratasi. Tapi tidak akan teratasi secara esensial," tukasnya.