Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 06:15 WIB
Tak Mau Komentari Kabinet Baru, JK Enggan Menggurui
Leo Sunu | ksp | Selasa, 20 Oktober 2009 | 14:56 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski dinilai sebagai salah satu sosok di balik sejumlah keberhasilan pada pemerintahan yang lalu, mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla rupanya enggan memberikan komentar terhadap kabinet baru yang telah disusun oleh pasangan SBY-Boediono. Menurutnya, dengan memberikan komentar, hanya akan memberikan kesan menggurui.

"Enggak mau. Saya enggak mau menggurui. Soal kabinet bisa ditanya kepada teman-teman yang lain," ujarnya kepada wartawan di kediaman pribadinya, Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (20/10).

Namun, JK sempat mengatakan, dengan menjadi wapres, tentu banyak konsekuensi yang harus diterima, antara lain kehilangan kebebasan karena harus mengabdikan seluruh kemampuan dan waktu kepada rakyat. "Jadi seorang wapres pasti banyak kehilangan kebebasan," katanya.

Kini, setelah tak lagi menjabat sebagai wakil presiden, JK mengaku akan lebih banyak menghabiskan waktunya di kampung halamannya, Makassar. Sejumlah bidang, seperti pendidikan, sosial, dan lingkungan, akan ditekuninya dalam waktu-waktu mendatang. "Saya akan bolak-balik Jakarta-Makassar. Kan kampung saya di Nusantara, Indonesia," ujarnya sembari tertawa.

Salah satu hal yang cukup berkesan bagi JK selama menjabat sebagai Wakil Presiden adalah bentuk penghormatan yang diberikan kepadanya. Lalu, apakah setelah tak lagi berkuasa JK akan mengalami post power syndrome? "Enggaklah. Saya enggak pernah terpaku soal itu. Saya tidak melihat penghormatan dari segi fisik. Saya melihatnya dari senyuman dan ramah-tamah," tandasnya.