ANKARA, KOMPAS.com — Turki, Jumat (16/10), mendesak Israel mengakhiri "tragedi kemanusiaan" di Gaza. Turki pun mengatakan, hubungan antara dua sekutu itu tidak dapat pulih jika rakyat Palestina terus menderita dan perundingan perdamaian Timur Tengah tetap macet.
"Mengakhiri tragedi kemanusiaan di Gaza, menghidupkan kembali usaha-usaha perdamaian—dengan Palestina dan Suriah, dan paling penting—menghidupkan semangat perdamaian di kawasan itu—inilah yang kami inginkan," kata Menlu Ahmet Davutoglu kepada wartawan.
"Apabila ada usaha untuk kembali pada jalur perdamaian, hubungan-hubungan kepercayaan (dengan Israel) akan dibangun kembali pada tingkat yang sama seperti sebelumnya," katanya.
Hubungan Israel dengan sekutu penting kawasan itu menurun tajam pekan lalu ketika Ankara tidak melibatkan negara Yahudi itu dalam pelatihan militer gabungan tahunan, yang memicu kemarahan Amerika Serikat.
Pertikaian itu muncul pada Kamis ketika Israel memanggil dubes Turki untuk memprotes film seri televisi pemerintah Turki yang dikecamnya sebagai "penghasut kebencian terhadap Israel" dan "tidak pantas disiarkan sekalipun itu negara musuh."
Davutoglu mengatakan, perang Israel di Gaza tahun lalu "membunuh perspektif perdamaian" di Timur Tengah dan menimbulkan kekacauan yang terus terjadi di wilayah Palestina itu adalah inti dari rusaknya hubungan bilateral itu.
Ia menegaskan, Ankara masih merasa tidak enak bahwa perang itu juga merusak perundingan perdamaian tidak langsung antara Israel dan Suriah yang Turki tengahi "dengan begitu banyak usaha." "Selama tragedi kemanusiaan di Gaza berlanjut, tidak seorang pun mengharapkan kami ikut serta dalam satu kerja sama militer" dengan Israel, katanya mengacu pada pembatalan pelatihan militer itu.
"Walaupun tidak ada satu roket pun ditembakkan ke Israel dari Gaza dalam delapan bulan belakangan ini, anak-anak di Gaza tidak bisa sekolah, orang tidak memiliki rumah untuk tempat berteduh," katanya.
Davutoglu menolak saran-saran agar pemerintahnya anti-Israel. "Situasi kemanusiaan (di Gaza) harus membaik dalam waktu secepat mungkin," katanya.
Sebelumnya, Wakil Perdana Menteri Bulent Arinc mengatakan, film seri televisi itu yang membuat Israel marah tidak bermotif politik, tetapi mengaku alur cerita itu mungkin agak dibesar-besarkan, kata kantor berita Anatolia.
"Hubungan antara Turki dan Israel selalu kuat. Kami percaya penuh bahwa mereka akan selalu tetap kokoh," katanya.
Episode pertama film yang ditayangkan pada Selasa itu menunjukkan pasukan Israel menembak seorang gadis kecil dan seorang bayi baru lahir, dan menggambarkan mereka menghina dan mengejek warga Palestina.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Kamis, mengatakan, perkembangan-perkembangan terbaru itu "menimbulkan pertanyaan: ke mana arah kebijakan Turki? Kami mengharapkan kebijakan itu menuju pada penguatan perdamaian bukan pada kelompok garis keras."
PM Turki Recep Tayyip Erdogan berada dalam garis depan kecaman internasional terhadap serangan Gaza itu.
Dalam satu tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, ia keluar dari satu sidang di Forum Ekonomi Dunia, Januari, menuduh Israel melakukan tindakan "biadab" dan mengemukakan kepada Presiden Israel Shimon Peres, yang duduk di sampingnya bahwa "Anda tahu betul bagaimna membunuh orang."
Rakyat Palestina berjuang untuk mendirikan negara sendiri yang mendapat dukungan luas di Turki, baik dari kalangan Islam maupun kiri.
Berbeda dengan hubungannya dengan Israel yang suram, pemerintah Erdogan meningkatkan hubungannya dengan Suriah dan mengusahakan hubungan yang erat dengan Iran, musuh bebuyutan negara Yahudi itu.

