A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: libraries/Globalfunc.php

Line Number: 41

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: libraries/Globalfunc.php

Line Number: 41

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: libraries/Globalfunc.php

Line Number: 41

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: libraries/Globalfunc.php

Line Number: 41

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: libraries/Globalfunc.php

Line Number: 41

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: libraries/Globalfunc.php

Line Number: 41

Kakak Zuhri dan Aing: Saya Senang Dia Tertangkap.... - KOMPAS.com
KOMPAS
Rabu, 17 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Kakak Zuhri dan Aing: Saya Senang Dia Tertangkap....
Senin, 12 Oktober 2009 | 16:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - "Saya senang dia tertangkap, tapi hati saya tetap saja gelisah". Itulah kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Dermo Prihatno, kakak kandung pertama dari dua buronan tersangka teroris Muhammad Syahrir (Aing) dan Syaifudin bin Djaelani atau Syaifudin Zuhri (Udin) alias Sole, Jumat (9/10).

Namun, hingga hari ini, Senin (12/10), saat keluarga besarnya datang ke RS Polri Sukanto Kramat Jati, Jakarta Timur, hanya Dermo yang tidak menampakkan batang hidungnya. Kedatangan mereka ke RS Polri dilakukan untuk memastikan benar tidaknya kedua jenazah teroris yang disemayamkan di rumah sakit itu adalah anggota keluarga mereka, yakni Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir, sebagaimana disebut-sebut sebagai dua buronan teroris yang tertembak oleh anggota Densus 88.

Seperti dituturkan oleh Kepala Desa Sampora, Kuningan, Jawa Barat, Nur Rohidin, yang datang bersama rombongan mengatakan, keluarga yang datang sebanyak sebelas orang, termasuk anak-anak. Sempat terlihat antara lain kedua orang tua mereka, yaitu Djaelani Irsyad dan Asanih, serta saudara-saudara kandung keduanya, yaitu Anugerah dan Sucihani.

Istri Zuhri, Cholifah dan istri Syahrir, Nurjanah, juga terlihat di sana, termasuk beberapa anak yang diperkirakan anak-anak Zuhri dan Syahrir. Hanya Dermo yang tidak tampak.

Akumulasi Masa Lalu

"Bagi saya, meskipun di dalam satu keluarga belum tentu keyakinan antara yang satu dan lainnya bisa sama. Ini hikmah yang saya dapatkan dari kejadian ini," ungkap Dermo, suatu kali ditemui Kompas.com di rumahnya di Mekarjaya, Depok, Senin, 24 Agustus 2009 lalu.

Dermo mengatakan, peristiwa yang terjadi terhadap kedua adik kandungnya tersebut saat ini adalah akumulasi peristiwa di masa lalu. Dia bilang, hal itulah yang membuatnya merasa berutang moral kepada kedua adiknya itu.

"Pertumbuhan mereka tak banyak saya amati karena setelah berstatus PNS pada tahun 1988, saya langsung menikah. Saat itu saya terbilang menikah muda, sehingga lebih banyak mengurus keluarga dan kurang memerhatikan mereka," ujar pria kelahiran 17 Februari 1963 ini.

Dalam pengakuannya, bukan hanya dirinya yang sadar akan hal itu, tetapi juga ayahnya, Djaelani Irsyad. Pencarian terhadap Aing dan Udin terkait peledakan bom di JW Marriot dan The Ritz-Carlton membuat dia dan orangtua kandungnya shock.

"Karena setelah kejadian itu, baik saya maupun ayah saya baru menyadari, bahwa selama ini kami seperti tidak pernah menyadari ada yang terlewatkan dan perhatikan," ujarnya.

"Kami baru sadar, kenapa setelah menikah itu mereka berdua dan keluarganya tidak pernah menetap lama di satu wilayah, kenapa mereka selalu mengontrak rumah, kenapa setiap Lebaran tidak pernah lengkap berkumpul di Kuningan, kenapa sebagai kakak tertua saya jarang dikunjungi. Semua ini adalah akumulasi peristiwa pada masa lalu yang kini baru kami sadari," ujarnya.

Hanya bisa Pasrah

Dermo mengakui, sosoknya sebagai seorang PNS pun cukup menguatkan alasan kedua adiknya membatasi diri untuk dekat dengannya. Dengan ayahnya, Djaelani, yang juga seorang guru PNS itu, Udin melakukan hal yang sama.

"Saya baru sadar, apa yang mereka lakukan dengan keyakinannya saat itu sepertinya memang tidak bisa berkompromi dengan birokrat, seperti saya dan ayah saya," ujar Dermo, yang mengaku terakhir kali bertemu Syaifudin Zuhri pada Maret 2009 lalu.

Setelah saat itu, Dermo mengaku benar-benar kehilangan kontak dengan adik kelimanya itu. "Bahkan, untuk yang terakhir kali ini, saya sadar bahwa saya memang jauh dari dirinya (Udin). Saya hanya bisa pasrah," ujarnya.

Dermo mengaku, keyakinan terhadap apa yang dijalankan oleh adiknya ini sangat mengakar kuat. Kuat dalam arti, berbekal keyakinan itu Udin bisa berjalan tanpa membutuhkan bantuannya sebagai kakak tertua.

"Tidak. Dia tidak pernah berusaha memengaruhi saya. Mungkin karena selain saya adalah PNS yang membuatnya enggan, juga lantaran dia tahu siapa saya sebenarnya, sikap dan perilaku saya tidak akan bisa dia pengaruhi," ujarnya.

Penulis: LTF   |   Editor: Edj Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.