TANGERANG, KOMPAS.com — Untuk mencegah agar mahasiswanya tidak masuk ke dalam jaringan terorisme, pihak Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, melakukan kerja sama dengan pemilik kos dan rumah kontrakan yang berada disekitar UIN.
"Agak sulit untuk meng-cover semua kegiatan mahasiswa di luar kampus. Oleh karena itu, kami melakukan koordinasi dengan RT atau RW dan pemilik kos," kata Nurul Jamal, Kepala Bagian Humas dan Informasi UIN, saat ditemui di ruangannya, Senin (12/10).
Ia mengatakan, para pemilik rumah kos dan kontrakan harus meminta identitas para penyewa. Hal tersebut dilakukan untuk proses identifikasi dengan pihak universitas. Para pemilik rumah kos dan kontrakan mengadakan pertemuan secara rutin untuk bertukar informasi.
Langkah lain yang diambil pihak universitas, katanya, adalah dengan bantuan para dosen dan civitas akademika UIN. Selain mengajar, para dosen diminta untuk menjalin hubungan dengan mahasiswanya. "Ada pendekatan dari dosen dan civitas UIN," kata dia.
Lebih jauh Jamal membantah banyak mahasiswa UIN yang mengikuti kegiatan-kegiatan islam garis keras. Pihak universitas tidak akan memberikan fasilitas bagi organisasi Islam garis keras.
Selain itu, ujarnya, semua kegiatan kemahasiswaan harus mendapat izin dari pihak universitas. "Kegiatan mahasiswa UIN sama dengan mahasiswa di kampus lain. Malah ada yang bilang UIN ini liberal," katanya.

