Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 23:02 WIB
Ical Harus Awasi Perilaku Elite Golkar
Inggried Dwi Wedhaswary | acandra | Sabtu, 10 Oktober 2009 | 14:41 WIB
|
Share:

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Aburizal Bakrie bersama pendukungnya meluapkan kegembiraan setelah memastikan diri menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar periode 2009-2015 seusai unggul atas kandidat kuat, Surya Paloh, pada lanjutan Musyawarah Nasional VIII Partai Golkar di Pekanbaru, Riau, Kamis (8/10) dini hari. Aburizal Bakrie mendapat 296 suara, sedangkan Surya Paloh memperoleh 240 suara.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Jajaran pengurus DPP Partai Golkar dinilai mayoritas diisi oleh para elite yang gampang "pindah ke lain hati". Hal ini harus diwaspadai dan dikontrol oleh Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Demikian dikatakan oleh pengamat politik, Fachry Ali, saat mengisi diskusi "Golkar Kini dan Masa Depan", di Jakarta, Sabtu (10/10). 

Fachry mengatakan, tugas utama Ical tak hanya melakukan konsolidasi partai. "Ical harus mampu, bukan hanya konsolidasi tapi juga mengawasi tingkah laku elite Golkar yang masuk ke pengurus. Karena mereka itu gampang berpindah dan hanya mengincar kekuasaan, tidak punya ideologi," ujar Fachry. 

Kontrol tersebut, menurut dia, harus dilakukan Ical agar tak melemahkan posisinya di kemudian hari. "Bisa saja, kalau keinginannya masuk ke pemerintahan tidak terpenuhi, bisa melemahkan posisi Ical," katanya. 

Pragmatisme di tubuh Partai Golkar, termasuk para elitenya, diungkapkan Fachry, persoalan klasik partai berlambang pohon beringin itu. Hal itu pula yang tampak jelas saat pemilihan ketua umum yang dimenangkan secara aklamasi oleh Aburizal Bakrie.

"Problem mendasar Golkar adalah tidak adanya ideologi. Yang kalah tidak perlu menyesal karena memang metodenya seperti itu," ujar dia.

Pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bakti, menambahkan, dengan posisi tawar yang lebih rendah, Partai Golkar harus bermain politik dengan baik agar tak menjadi "pengemis" kekuasaan.