Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 04:07 WIB
Pernah "Hajar" Golkar, Masuknya Rizal Dipertanyakan
Inggried Dwi Wedhaswary | acandra | Sabtu, 10 Oktober 2009 | 11:53 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Pilihan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengajak Rizal Mallarangeng ke jajaran pengurus DPP Partai Golkar kembali dipertanyakan. Rizal tak pernah tercatat sebagai kader Partai Golkar.

Bagi politisi Partai Golkar, Ferry Mursyidan Baldan, Rizal justru punya catatan sejarah pernah "menghajar" Partai Golkar pada pemilu presiden Juli lalu. Kala itu, Rizal, yang menjadi Juru Bicara Cawapres Boediono, pernah menuding Partai Golkar melakukan black campaign terhadap Boediono. 

"Agak sulit menerima dia (Rizal). Peserta Munas saja menyoraki saat namanya disebut. Bukan hanya soal kaderisasi. Ketika kampanye lalu, kalimat dia menghajar, bahkan memaki Golkar. Sekarang tiba-tiba masuk. Bagaimana orang yang dulu memaki-maki, kemudian ditampung," kata Ferry saat mengisi diskusi "Golkar Kini dan Masa Depan", Sabtu (10/10) di Jakarta.

Masuknya kakak kandung Andi Mallarangeng itu tak hanya dipersoalkan dari sisi kaderisasi oleh internal Partai Golkar. Menurut Ferry, track record Rizal yang dekat dengan partai lain menjadi pertanyaan tersendiri.

"Dari sisi paham politiknya kan berbeda, berseberangan. Orang tidak dibatasi untuk bersahabat dengan siapa saja, tapi juga harus memperhatikan moral berpolitik," kata mantan anggota DPR ini.

Pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bakti, menilai masuknya Rizal memang cukup mengejutkan. Ia mempertanyakan, apakah hal ini menunjukkan longgarnya sistem kaderisasi di Partai Golkar. Sebab, Rizal tidak masuk dari sistem kaderisasi yang baik.

Politisi Partai Golkar lainnya, Poempida Hidayatullah mengungkapkan, tak ada persoalan dari sisi aturan kaderisasi. Sebab, peraturan partai tak melarang "orang baru" masuk menjadi pengurus, sepanjang tidak melanggar ketentuan 10 persen dari total jumlah pengurus.

"Tapi tidak mudah bagi Celi (panggilan Rizal). Dia harus belajar Hymne Golkar, menghapal. Dan yang terpenting, dia harus paham ideologi Golkar. Jangan membawa ideologi dia sendiri," kata Poempida.

Pandangan lain diungkapkan pengamat politik Fachry Ali. Ia melihat, direkrutnya Rizal merupakan refleksi cara berpikir Ical yang respek pada kaum intelektual. "Walaupun dari sisi karier politik, banyak yang mempertanyakan. Tapi, Ical berpikir, 'tidak penting warna kucing, tapi apakah kucing ini bisa menangkap tikus'," kata Fachry.

Ical sendiri, seusai pengumuman pengurus DPP Partai Golkar di Pekanbaru beralasan, ia merekrut Rizal karena sudah mengetahui kemampuannya. Ia ingin membangun sebuah lembaga kajian baru bagi Partai Golkar. Rizal, menurut dia, sudah teruji memimpin Freedom Institute, sebuah lembaga yang didanai oleh keluarga Bakrie.