KOMPAS.com — Jumat (9/10) sekitar pukul 11.50, Usep (18), Dimiyati (18), dan Adlan (18) terkurung di kamar nomor 14 kontrakan Semanggi di kompleks permukiman Semanggi, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Mereka bersembunyi di meja sudut kamar sembari berdoa.
Di kamar 15, yang bersebelahan persis dengan kamar mereka, dua tersangka teroris sedang digerebek Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Ketiga mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu mendengar dentuman bom, seperti suara petasan meledak dan rentetan tembakan.
”Kami terkurung lebih kurang selama lima menit. Selain suara tembakan dan dentuman, samar-samar kami mendengar suara, ’bawa hidup-hidup saja... bawa hidup-hidup saja’. Suara itu semakin membuat kami panik,” kata Usep yang masih agak gemetaran.
Setelah itu, ketiga mahasiswa semester satu itu semakin gemetar ketika seorang anggota Densus 88 menggebrak pintu kamar mereka. ”Dia meminta kami segera keluar kamar,” ujar Adlan.
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah lain, Ari (19), mengaku mendengar tembakan dan dentuman saat mandi dan mempersiapkan diri untuk shalat Jumat. Dia juga diminta keluar kamar oleh salah seorang anggota Densus 88.
”Saya hanya menginap semalam di kamar teman. Letaknya persis di bawah suara dentuman dan tembakan,” kata Ari yang hanya mengenakan kaus dan sarung.
Kontrakan Semanggi berada di perkampungan Semanggi, Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Kontrakan berlantai dua dan berwarna salem itu berada sekitar 200 meter dari Jalan Raya Ciputat dan tertutup gedung-gedung tinggi.
Gedung-gedung itu adalah perguruan tinggi Bina Sarana Informatika dan Pusat Pelatihan dan Pendidikan Pegawai Departeman Agama. Di sebelah barat dan timur kontrakan merupakan rumah-rumah penduduk yang cukup padat.
Penyergapan teroris di kontrakan Semanggi itu menggegerkan warga permukiman Semanggi, Kelurahan Cempaka Timur. Warga tidak menduga kalau di permukiman mereka tinggal dua tersangka teroris.
Begitu besar rasa ingin tahu warga, setelah evakuasi jenazah tersangka teroris dari rumah kontrakan dilakukan, warga sekitar berbondong-bondong memasuki lokasi di belakang garis polisi secara bergantian. Mereka rela berdesakan melihat rumah kontrakan itu bersama wartawan, polisi, dan tenaga keamanan masyarakat.
Peristiwa itu juga memacetkan Jalan Ciputat Raya. Pasalnya, warga yang tinggal di seberang jalan berduyun-duyun menyeberang untuk melihat langsung lokasi penyergapan teroris. Sebagian besar warga, terutama warga permukiman Semanggi, tidak mengenali dua teroris itu. Mereka mengenal dua orang itu sebagai mahasiswa peneliti.
Menurut Usep, teroris itu mengaku bernama Soni dan Aan. Saat memperkenalkan diri, mereka mengaku sedang melakukan penelitian, tetapi tidak menyebut bidang penelitiannya.
”Mereka datang sejak awal puasa dan jarang keluar kamar. Kami tidak tahu keadaan kamar mereka karena selalu tertutup. Mereka hanya keluar pada malam hari,” kata Usep.
Hal senada dikatakan Akbar (29), pemilik warung yang berjarak sekitar 200 meter dari kontrakan Semanggi. Dua tersangka teroris itu kerap memesan minuman mineral galon.
Menurut Akbar, salah satu penghuni kamar yang mengaku bernama Soni mendatangi warung dan meminta galon itu dikirim ke kamar. Dia berperawakan tinggi, berpenampilan seperti mahasiswa, berkulit putih kecoklatan, dan berjenggot.
”Saya mengetuk pintu kamar dan mengatakan kalau air sudah terkirim. Dari dalam kamar, dia meminta saya meletakkan galon di depan pintu,” kata Akbar.
Beberapa hari yang lalu, pintu kamar Ihya (19), mahasiswa yang kos di kamar nomor 11, diketuk salah satu penghuni kamar nomor 15. ”Dia tanya nomor telepon Bu Amas, pengurus kos. Tingginya sedang, kulit di bawah matanya kehitaman,” ujar Ihya. (Hendriyo Widi/Sarie Febriane)

