Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Februari 2012 | 16:13 WIB
Trauma dan Gangguan Jiwa Korban Selamat
Dwi Bayu Radius | Rabu, 7 Oktober 2009 | 01:23 WIB
|
Share:

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Warga melintas di antara puing bangunan rumahnya di Desa Sungai Sirah, Dusun Duo, Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (4/10). Gempa bumi berkekuatan 7,6 skala richter yang mengguncang Sumbar mengakibatkan sedikitnya 500 orang meninggal dan ribuan bangunan hancur.

TERKAIT:

 

 

BANDUNG, KOMPAS.com-Rasa trauma dan risiko gangguan jiwa menjadi masalah utama yang dialami para korban hidup gempa bumi Sumatera Barat. Mereka yang selamat pun harus kehilangan atau berpisah dengan anggota keluarganya yang lain.

Kepala Badan Pendidikan dan Penelitian Departemen Sosial Marjuki di Bandung, Selasa (6/10), mengatakan, Departemen Sosial telah mendirikan pusat penanganan trauma di Sumatera Barat untuk menangani mereka yang terkena gangguan mental.

"Kalau sekarang masih susah untuk memberdayakan korban. Kami menangani masa darurat dulu baru pemberdayaan. Masih panjang prosesnya untuk stabil," katanya. Secara psikologis, korban dapat menjadi gila bila mengalami shok secara ekstrem.

Tak hanya korban dewasa, anak-anak juga bisa mengalaminya. Penanganan saat ini baru tahap memenuhi kebutuhan pokok seperti penyaluran makanan, tenda, dan pakaian. Setelah masalah itu diselesaikan, pemberdayaan masyarakat baru bisa dilaksanakan.