USMAN, Ketua RT 01 RW 16, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Minggu (4/10) petang meradang di Posko Utama Kota Padang, tempat bantuan korban gempa terkumpul. Sudah hari keempat pascagempa, belum satu pun jenis bantuan yang diterima 210 kepala keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.
"Bantuan tiba terus ke Posko Utama, dan kemudian didistribusikan, tapi tak seorang pun warga saya peroleh bantuan. Kata warga di kelurahan lain yang sudah menerima, bantuan harus dijemput sendiri ke Posko Utama. Ditanya ke petugas di Posko Utama, bantuan diserahkan ke kecamatan melalui Camat," kata Usman, yang tampak tak sabaran.
Ia kemudian berbalik arah akan menanyakan hal itu ke kantor camat dan lurah. "Pokoknya, kalau jawabannya tak jelas, apa pun barang yang ada di Posko Kecamatan dan Posko Kelurahan, akan saya naikkan ke mobil. Tenang saja. Kesabaran saya sudah habis, warga saya saat ini merintih kelaparan," tandasnya.
Tak hanya di Posko Utama Kota Padang, sejumlah warga dan Ketua RT mendatangi untuk menanyakan perihal pendistribusian bantuan. Di Posko Bantuan Provinsi Sumatera Barat, Oyong, warga Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman, mendatangi Posko Bantuan Provinsi Sumbar di Kantor Gubernur Sumatera Barat.
"Keluarga kami belum dapat bantuan, sedangkan kami sangat mengharapkan, seperti tenda dan bahan makan an," katanya.
Petugas di Posko Bantuan Provinsi Sumbar berupaya memberikan penjelasan bahwa, bantuan hanya diserahkan ke Kabupaten/Kota kepala Bupati. Sedangkan soal distribusi, pengaturan oleh masing-masing kabupaten kota.
Mungkin, karena birokrasi yang berbelit-belit, dan pendistribusian di tingkat kecamatan dan atau kelurahan yang tidak transparan, di Posko Bantuan Kabupaten Padang Pariaman, Minggu (4/10) dini hari, dilaporkan terjadi penjarahan material bantuan oleh warga yang tidak sampai hari keempat, belum peroleh bantuan apa pun.
"Warga tidak hanya menjarah di Posko, tapi juga menghentikan kendaraan bantuan yang melintas di jalan di Kabupaten Padang Pariaman. Kenyataan seperti ini sangat kita sesalkan," kata Kepala Sekretariat Satkorlak PB Sumbar, Ade Edward, kepada pers.
Penanggung jawab pendistribusian bantuan korban gempa di Posko Utama Kota Padang, Mulyadi, mengatakan, tanggung jawab pihaknya hanya mengirimkan bantuan ke tingkat kecamatan. Posko Utama hanya mendistribusikan bantuan ke 11 kecamatan di Kota Padang. "Soal pendistribusian ke masing-masing kelurahan menjadi tanggung jawab Camat," katanya.
Secara terpisah, Penanggung Jawab Penerima Bantuan di Posko Utama Padang, Cory Saidan menjelaskan, semua bantuan yang diterima di samping dari para donator, juga drop bantuan dari Posko Bantuan Provinsi Sumbar. "Sebanyak yang kita terima, langsung didistribusikan oleh bagian distribusi ke masing-masing kecamatan," katanya.
Kalau demikian halnya, kenapa di lapangan ditemukan ribuan korban gempa tak terima bantuan? Apakah karena bantuan sangat terbatas sehingga yang menerima juga terbatas?
Tadi siang, warga RT 01 RW 16 Kelurahan Kuranji, baru dapat bantuan sekarung beras berisi 20 liter. Kalau dibagi dengan jumlah warga yang sekitar 1000 orang atau 210 kepala keluarga, maka masing-masing keluarga mungkin dapat segenggam beras. "Karena sangat tidak mencukupi, bantuan sekarung beras tersebut, tidak dibagikan," kata Alan, warga Kelurahan Kuranji, yang melapor ke Posko Utama Padang, mendampingi Ketua RT, Usman.
Menurut Kepala Bidang Banjamsos Provinsi Sumbar, yang menjadi penangung jawab pendistribusian bantuan ke masing-masing kabupaten/kota, Irwan Basir, bantuan yang telah didistribusikan berupa 25 ton beras, yakni 5 ton tanggal 1 Oktober, dan 20 ton beras diserahkan tangal 3 Oktober.
Sedangkan untuk Kota Padang, sudah diserahkan bantuan beras sebanyak 9,47 ton beras dan di Kota Pariaman sebanyak 5 ton beras. Selain itu juga bantuan lain dengan jumlah yang sangat minim, seperti 13 dus minyak goreng, 1.700 lembar selimut dan sebagainya untuk Kabupaten Padang Pariaman.
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Marlis Rahman, menjelaskan, bantuan yang diuntukkan bagi Sumatera Barat dari pihak asing, masih dikelola pemerintah pusat, sedangkan bantuan asing berupa teknisi/relawan dating data ng langsung dan memulai aktivitas di lokasi yang membutuhkan.
Sedangkan soal bantuan bahan makan an dan kebutuhan mendesak warga korban gempa lainnya, diakui memang masih terbatas. Sehingga, bantuan yang didistribusikan juga sangat terbatas. "Bagaimana pun, masyarakat diharapkan bersabar. Akan dicarikan jalan keluar untuk pengadaan kebutuhan warga yang mendesak tersebut," jelasnya.
Tentang banyaknya bantuan yang belum sampai dan diterima warga korban gempa, juga dilaporkan Ketua Gerakan PKK Sumatera Barat, Vita Gamawan, yang sempat menerima langsung la poran dari warga korban gempa di Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman dan di Kawasan Pondok, Kota Padang. "Kita prihatin, warga korban gempa masih belum mendapatkan bantuan. Pendistribusian harus transparan dan disegerakan," ujarnya.
Agar tidak semakin kacau, pemerintah perlu menjelaskan bagaimana manajemen pendistribusian bantuan kepada masyarakat korban gempa.

