KOMPAS.com — Sejumlah delegasi yang terdiri atas pejabat dari kalangan pendidikan medis dan kedokteran dari sejumlah negara Asia mengikuti Konferensi Asosiasi Pendidikan Medis Asia (Asian Medical Education Association/AMEA), 4-7 Oktober di Kota Bandung.
Konferensi diadakan di Hotel Hilton Bandung, dibuka oleh Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan dan Rektor Universitas Padjajaran Prof Dr Ganjar Kurnia.
Kegiatan yang digelar oleh Universitas Padjadjaran itu juga diikuti oleh mahasiswa kedokteran, dokter, dan spesialis yang tertarik di bidang pendidikan medis dengan total peserta mencapai 360 orang.
Selain di Hotel Hilton, acara itu juga diadakan di Gedung Fakultas Ilmu Kedokteran Unpad di Jalan Eijkman, dengan tema "Education for Future Physician: Mosaic in Asia".
Pelaksanaan prakonferens dan workshop digelar di Gedung Fakultas Kedokteran Unpad, Minggu kemarin, sedangkan konfrens yang akan berlangsung 5-7 digelar di Hotel Hilton.
Beberapa negara peserta antara lain dari Singapura, Thailand, Filipina, Korea, Iran, Irak, Hongkong, dan Malaysia. Sedangkan peserta dari Tanah Air berasal dari 20 fakultas kedokteran Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta.
Dalam konferensi yang difokuskan untuk menyamakan dan menyeragamkan sistem pendidikan kedokteran di Asia dan bahkan di dunia itu juga menampilkan narasumber dari AS, Australia, Hongkong dan Kanada.
Sementara itu Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan dalam sambutannya menyebutkan, penyelenggaraan Konferensi AMEA 2009 tersebut merupakan ajang strategis untuk meningkatkan sistem pendidikan medis dan meninkatkan kualitas dan mutu lulusan yang bisa diandalkan.
"Konferensi AMEA 2009 ini sangat strategis, tak hanya bagi Unpad yang menjadi penyelenggara namun umumnya bagi pengembangan dunia pendidikan medis," kata Heryawan. Pada kesempatan itu, Heryawan menyebutkan tingkat kebutuhan pelayanan medis masyarakat cukup tinggi, terutama mereka yang mampu menjangkau hingga masyarakat di peloksok negeri.
Untuk itu, Heryawan berharap konferensi AMEA 2009 memberikan masukan baru terkait pengembangan dan pelayanan medis bagi masyarakat terutama di negara berkembang. Sehingga terjadi penyebaran tenaga medis di tengah-tengah masyarakat.
"Tenaga medis mempunyai peran strategis untuk mengkomunikasikan kesehatan dan pola hidup sehat di masyarakat di mana masalah kesehatan masih menjadi salah satu kendala di sebagian besar negara berkembang," kata Heryawan.
Sementara itu, Rektor Universitas Padjadjaran Prof Dr Ganjar Kurnia menyebutkan, Konferensi AMEA 2009 ini menjadi salah satu tonggak pengembangan pola pendidikan medis di Asia dan dunia menuju globalisasi.
"Konferensi ini diharapkan menjadi ajang ’sharing’ pengalaman dan saling mengenali sistem pendidikan medis di negara masing-masing untuk selanjutnya ada kesegaraman dalam pola pendidikan medis secara global," kata Ganjar Kurnia.
Menurut Ganjar, berbeda dengan disiplin ilmu lainnya yang mengenal mazhab, ilmu kedokteran sifatnya global dan tidak ada perbedaan di setiap daerah. Hal itu, kata dia memungkinkan dilakukan penyeragaman sistem pendidikan medis di dunia.
Hal sama juga diungkapkan Ketua Penyelenggara Konferensi AMEA 2009, Prof Dr Darmadji yang menyebutkan konferensi yang pertama kali digelar di Indonesia itu akan menghasilkan rekomendasi dan masukan-masukan bagi pengembangan dan pola pendidikan medis di Asia bahkan di dunia.
"Ilmu kedokteran atau medis di seluruh belahan dunia sama, namun perlu ada pola penyeragaman dalam sistem pendidikannya. Konferensi ini salah satunya menjembatani adanya keseragaman itu," kata Darmadji.
Meski konferensi tersebut berlabel Asia, pihaknya menampilkan para pembicara dari AS, Australia, dan Kanada. "Konferensi ini benar-benar sharing pengalaman dan pola pendidikan medis dengan mendatangkan narasumber dari pakar pendidikan medis dari AS, Australia dan Kanada, termasuk pula narasumber dari beberapa negara Asia," kata Darmadji.

