Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:32 WIB
Pengalaman Pahit Mengubah Segalanya
| Senin, 5 Oktober 2009 | 05:45 WIB
|
Share:

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Para korban gempa di Bantul, DI Yogyakarta, saat ini lebih tanggap dan siap dalam menghadapi gempa. Salah satunya adalah dengan membuat rumah tahan gempa berkonstruksi kayu kelapa yang dinilai lebih ringan dari beton dan lentur saat menghadapi gempa.

TERKAIT:

Oleh Eny Prihtiani

KOMPAS.com-
Pengalaman menjadi korban gempa 2006 banyak mengubah kehidupan keluarga Giyoso (46), warga Dusun Gilang, Baturetno, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta, terutama menyangkut konstruksi rumah. Rumahnya yang roboh dibangun kembali dengan konstruksi lebih ringan.

Gempa membuat istri saya cacat karena kakinya patah tertimpa dinding. Saya tidak mau itu terulang. Rumah pun saya bangun dengan menggunakan dinding bata pada bagian bawah dan dinding kayu pada bagian atas. Kalaupun dindingnya roboh, dampaknya tak akan parah karena bahannya dari kayu,” ujar Giyoso, Sabtu (3/10).

Dinding bata hanya dibuat 1 meter tingginya. Sisanya menggunakan kayu dan bambu. Kaca tidak dipakai untuk jendela. Daun jendela dibuat dari kayu juga.

Tak hanya soal bangunan, ia juga memerhatikan perabot rumah tangga. Ia tidak lagi memakai perabotan yang ukurannya tinggi, seperti lemari pakaian. Tujuannya supaya tidak banyak yang runtuh saat gempa mengguncang. Untuk menyimpan baju dan perkakas lainnya, ia menggunakan lemari ukuran pendek.

Cerita serupa juga dilontarkan Mardi (43). Ia tidak pernah mengunci pintu ketika sedang berada di rumah. Tujuannya, ketika gempa terjadi, ia bersama istri dan kedua anaknya bisa lebih cepat lari keluar. ”Kalau pintunya terkunci, pasti akan panik dan itu memperlambat proses penyelamatan diri. Kalau harus dikunci, kuncinya saya biarkan tergantung di pintu,” ujarnya.

Mardi juga menyiapkan jalur ”evakuasi” khusus di rumahnya. Sejak dari ruang tidur menuju pintu keluar ia tidak menaruh barang apa pun. Pengalaman tetangganya yang patah pada tulang belakang karena telat menyelamatkan diri akibat terhalang motor yang ditaruh di dekat pintu menjadi pertimbangannya.

Rumah tahan gempa

Gempa 5,9 skala Richter tiga tahun silam telah memorakporandakan hampir 80 persen bangunan di Kabupaten Bantul. Sekitar 5.000 nyawa melayang terkena reruntuhan bangunan. Pascagempa Bupati Bantul Idham Samawi mengimbau masyarakat membangun kembali rumah mereka dengan konsep yang lebih tahan gempa.

Menurutnya, bangunan tahan gempa bisa meminimalkan jumlah korban. Salah satu komponen terpenting dalam bangunan tahan gempa adalah fondasi yang dalam. Agar fondasi lebih kuat, tanah harus digali lebih dalam. Secara khusus Pemerintah Kabupaten Bantul menyediakan konsultan bagi masyarakat yang kebingungan dengan konsep tahan gempa. Khusus untuk fondasi, pemerintah melalui kelompok masyarakat melakukan survei kelayakan bagi fondasi lama. Apabila kondisinya masih layak, pembangunan rumah tidak perlu menggunakan fondasi baru.

”Masyarakat bisa bertanya langsung ke kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bila masih kebingungan dengan bangunan tahan gempa,” kata Idham.

Berdasarkan hasil survei Tim Teknis Nasional (TTN) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pascabencana Gempa DIY dan Jawa Tengah, dari 159.000 rumah rusak berat atau roboh di DIY yang dibangun kembali dengan dana rekonstruksi, sekitar 6,5 persen rumah dianggap memenuhi konstruksi aman gempa 100 persen. Yang terbanyak, atau sekitar 60 persen dari rumah yang terbangun, dinyatakan memenuhi kriteria aman gempa 80-99 persen.

Gotong royong

Ketua TTN Soetatwo Hadiwigeno pun sempat mengacungi jempol masyarakat Bantul karena mereka bisa membangun kembali rumahnya dengan konsep tahan gempa meski dana yang disediakan pemerintah hanya Rp 15 juta. Uang itu tidaklah cukup untuk membangun rumah dengan luas minimal 36 meter persegi seperti keinginan pemerintah. Apalagi sekitar 67 persen dari rumah yang dibangun luasnya lebih dari 36 meter persegi. Mayoritas warga membangun rumah dengan luas sekitar 60 meter persegi.

Semangat gotong royong masyarakat menjadi jawaban terbangunnya rumah-rumah pascagempa.

Idham sejak awal ngotot agar pembangunan rumah dilakukan secara swadaya oleh kelompok masyarakat. Alasannya sederhana, menghindari penyelewengan dana dan membangun semangat warga. ”Masyarakat jangan dibiarkan menganggur. Beri mereka kesibukan dengan melibatkan mereka membangun rumahnya sendiri,” katanya.

Selain soal bangunan, pengalaman gempa juga memengaruhi psikologis masyarakat Bantul. Sekarang mereka lebih sigap setiap kali gempa datang. Begitu terasa bumi bergoyang sedikit saja, mereka langsung berhamburan keluar rumah.

Masirah (50) mengatakan, sewaktu gempa 2006 ia sempat tertimpa reruntuhan bangunan karena ingin menyelamatkan motornya. Namun, kini ia tidak pernah menghiraukan lagi harta bendanya. Yang paling utama adalah penyelamatan nyawa.

”Kalau ada gempa, saya langsung teriak supaya anggota keluarga lain terdengar dan bisa berlari ke luar rumah,” katanya.

Untuk melatih mental khususnya anak, Pemkab Bantul telah memasukkan mitigasi gempa sebagai salah satu kurikulum bagi siswa SD sejak tahun 2008. Lewat materi tersebut diharapkan siswa bisa memahami bahaya bencana dan bisa menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul Sahari, Bantul termasuk wilayah yang rawan bencana gempa, banjir, dan tanah longsor. ”Banyaknya korban saat gempa tahun 2006 membuat kami berpikir untuk memperkenalkan mitigasi bencana kepada anak-anak sejak dini. Tujuannya supaya jumlah korban bisa ditekan,” katanya.

Sumber :
Kompas Cetak