BOGOR, KOMPAS.com- Warga Bogor, khususnya para karyawan kantor pemerintahan, sudah terbiasa mengenakan batik ke kantor. Sebab, sejumlah kantor memang mengharuskan atau mentradisikan seminggu satu kali, setiap Jumat, karyawan atau pegawainya diimbau untuk berbusana batik.
"Kami memang setiap Jumat selalu berbusana batik. Tradisi ini sudah kami laksanakan sejak masa kepemimpinan Pelaksana Bupati Sumirat pada November 2008. Sejak itu semua PNS setiap Jumat setelah berolah raga bersama, mengenakan batik. Karena kebijakan itu diteruskan oleh Bupati sekarang, Pak Rachmat Yasin," kata Erwin, karyawan bagian humas Pemkab Bogor.
Kebijakan seminggu satu kali berbusana batik ke kantor juga diterapkan di Kantor Jasa Raharja Perwakilan Bogor dan Kantor Pegadaian Bogor. " Sudah tahu, hari ini batik diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia. Tapi, Jumat ini kebetulan juga memang sudah biasa karyawan berbusana batik. Sejak saya bekerja di Pegadaian tahun 2000, karyawan sudah mengenakan batik seminggu sekali setiap Jumat," kata Hernanto Hadi Nugoho, karyawan Perum Pegadaian di Unit Pelayanan Cabang Plaza Jambu Dua.
Yang gemar berbusana batik lainnya adalah Kepala Kantor Jasa Rahaja Perwakilan Bogor Tugiman Usman. Bukan saja setiap Jumat mengenakan batik ke kantor, Tugiman juga berbusana batik untuk berbagai kegiatan, seperti kondangan, arisan keluarga, rapat dengan RT/RW, kumpul-kumpul dengan rekan, melayat, dan bersantai.
"Baju batik itu bisa buat apa saja, sebab banyak corak dan warna yang dapa kita pilih sesuai situasi. Batik yang sekarang saya pakai ini batik Cirebon. Kemeja batik saya lebih dari 12. Ada yang tangan panjang, ada yang pendek," tuturnya.
Pedagang buah potong di halaman Balai Kota Bogor, Mad Halim (46), juga penggemar kemeja batik. " Setiap salat di masjid, saya biasanya pakai baju batik. Sekarang Bogor juga punya batik, gambar kujang dan rusa," katanya.
Jamaah di Masjid At Taqwa di Balai Kota pun hampir 95 persen mengenakan batik saat sembayang Jumat kemarin, sebagaimana Wakil Wali Kota Bogor Achmat Ruyat. Begitu juga semua anggota dewan dan pejabat Muspida Kota Bogor atau yang mewakilinya, saat Sidang Paripurna Penetapan Alat-alat Kelengkapan DPRD yang dipimpin Ketua DPRD Kota Bogor Mufti Fauqi.
Di unit pelayanan pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) di Polres Bogor di Cibinong, polisi yang melayani warga pemohon SKCK Jumat kemarin pun berbusana batik, baik laki-laki polisi maupun perempuan polisi. Begitu juga warga pemohon, banyak yang berbusana batik. Di antaranya Erna (19), warga Sukaraja , yang berbusana muslim dari bahan batik.
"Saya tahu hari ini PBB meresmikan batik dan ada imbauan berbusana batik. Saya memang punya baju ini, ya saya pakai. Saya bangga dunia mengakui batik dari Indonesia, bukan asal Malaysia atau Afrika," kata Erna, para medis di klinik swasta, yang memohon SKCK untuk melengkapi lamaran kerja di Pemkab Bogor.

