YOGYAKARTA, KOMPAS.com-Menyambut ditetapkanya batik oleh United Nation Education Scientifis and Cultural Organization atau Badan PBB yang menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya, sebagai world heritage masyarakat Yogyakarta beramai-ramai mengenakan pakaian batik, Jumat (2/10). Di sekolah-sekolah, perkantoran, dan tempat-tempat umum, pelajar dan masyarakat umum terlihat mengenakan baju batik.
"Ini untuk penghormatan kepada batik, warisan leluhur yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO," ungkap Wuri (25) karyawati swasta, warga Kulon Progo, DI Yogyakarta. Ia mengenakan atasan batik motif gaya klasik Yogyakarta dengan dipadukan dengan celana panjang hitam.
Ia mengaku, sudah sejak lama suka batik sehingga tidak pada tanggal 2 Oktober saja memakai batik. Ia bersyukur batik resmi diakui sebagai milik Indonesia, tidak keduluan diklaim oleh Malaysia. "Saya punya batik cap. Pengennya beli batik tulis tetapi kan masih relatif mahal," katanya.
Sementara itu, di lingkungan Pemerintah Provinsi DIY para pegawai negeri sipil juga mengenakan pakaian batik. Akan tetapi, ini tidak secara khusus memakai batik guna menyambut ditetapkanya batik sebagai world heritage, namun karena memang sudah ada kewajiban bagi PNS pemprov DIY bahwa setiap hari Jumat dan Sabtu mengenakan pakaian batik.
Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X sudah mengeluarkan surat edaran sejak tanggal 31 Juli tahun 2007 tentang penggunaan pakaian dinas harian yang isinya mewajibkan pegawai Pemprov setiap hari Jumat dan Sabtu memakai batik. Ini wujud komitmen Pemprov melestarikan batik. "Komitmen kita sudah sejak lama, " kata kepala Bidang Hubungan Masyarakat Pemprov DIY Biwara Yuswantara.

