PADANG, KOMPAS.com — "Mohon dengan hormat, korban sudah keluar, berada di kantong jenazah. Jauh lebih baik, kalian tunggu di rumah sakit," demikian bunyi dari pengeras suara di depan Bimbingan Belajar Gama di Jalan Proklamasi, Padang, Sumatera Barat.
Pengumuman itu untuk "mengusir" kerumunan manusia, "wisatawan" gempa bumi di Padang. Mungkin saja, ada di antara mereka yang mencari sanak keluarga. Namun, dari tindak tanduk mereka, terlihat jelas bahwa yang lebih banyak adalah penonton.
Polisi pun jengkel, menghardik sana-sini, menggenggam pentungan untuk menghalau warga. Angkot yang melambat pun diusir saat melaju pelan-pelan melintasi kawasan itu. Kamis (1/10), setidaknya 12 jenazah anak-anak sekolah dievakuasi dari Bimbingan Belajar tersebut.
Mobil ambulans menderu saat keluar dari lokasi Bimbingan Belajar itu. Di lokasi tersebut, gedung tiga lantai itu pun kini tak berbentuk, digaruk-garuk alat berat. Petugas keamanan berharap masih ada korban selamat. Sebanyak 12 korban meninggal tadi tentunya akan menambah daftar korban gempa bumi di Padang.
Data terakhir, jumlah korban tewas lebih dari 400 orang. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Masih banyak evakuasi yang harus dikerjakan. Terlebih, bila prediksinya, ada ratusan hingga ribuan orang yang terjebak di reruntuhan rumah atau gedung.
Jadi, warga Padang dan Sumatera Barat sebaiknya bahu-membahu, bekerja keras memulihkan diri dari peristiwa alam ini. Jangan hambur-hamburkan bahan bakar minyak untuk sekadar keliling kota, melihat suasana. Ingat, di sisi kota lain, antrean di SPBU telah mengular dan memacetkan lalu lintas.

