JAKARTA, KOMPAS.com - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masa bakti 2004-2009 mendapat "rapor" merah. Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) yang menyampaikan catatannya atas kinerja dewan selama lima tahun, Rabu (30/9), menilai DPR berkinerja rendah dan bercitra buruk. Hal itu dipaparkan Koordinator Formappi, Sebastian Salang, pada diskusi di Press Room Gedung DPR, Jakarta.
Sebastian mengungkapkan, penilaian ini bukan berdasarkan hasil survei ataupun persepsi. Melainkan berdasarkan data, temuan dan acuan analisa yang dikumpulkan selama lima tahun terakhir.
"Penilaian ini untuk menyatakan tanggunggugat kepada DPR 2004-2009 dan memberikan dorongan untuk kinerja yang lebih baik bagi DPR 2009-2014 ," kata Sebastian.
Berdasarkan catatan Formappi, DPR yang merupakan lembaga perwakilan rakyat justru tampak jauh dari rakyat. "Anggota DPR lebih menyukai studi banding ke luar negeri ketimbang berdialog dengan konstituen," lanjutnya.
Dalam hal proses legislasi, DPR dibawah pimpinan Agung Laksono dinilai lebih memperhatikan proses dibandingkan substansi legislasi. Sehingga, hal-hal yang dicapai lebih banyak yang diluar prioritas daripada apa yang sudah dijadikan target prioritas.
"Terhormat dalam jabatan tetapi buruk dalam perilaku, malasa, terlibat suap dan korupsi," ujar Sebastian.
Dengan penilaian tak menggembirakan ini, ia memprediksi, DPR 2009-2014 akan menghadapi tugas berat dalam mengembalikan citra dan kepercayaan publik terhadap DPR.

