Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 04:52 WIB
Muhammadiyah: Bukan Nasionalisme Marah-marah
Maria Serenade Sinurat | Sabtu, 29 Agustus 2009 | 18:48 WIB
|
Share:

SURABAYA, KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai emosi berlebihan yang ditunjukan bangsa Indonesia menyikapi klaim Malaysia terhadap budaya dan daerah Indonesia merupakan bentuk kecemburuan peradaban. Padahal nasionalisme kita seharusnya bukan nasionalisme marah-marah.

"Kita marah, emosi hingga melakukan hal ekstrem untuk menunjukkan nasionalisme kita. Tapi itu sebetulnya kecemburuan peradaban," ujar Din ketika membuka acara kajian Ramadhan Muhammadiyah bertema Membangun Visi dan Karakter Bangsa di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya, Sabtu (29/8).

Kecemburuan peradaban, lanjut Din, menunjukkan sikap kita yang tidak menerima negara lain lebih maju daripada bangsa sendiri. "Padahal tuntutan nasionalisme kita lebih dari itu, melainkan bagaimana mencari karakter bangsa yang kini mulai memudar di tengah himpitan globalisasi, nodernisme, dan euforia reformasi," katanya.

Din menyadari sulitnya menemukan kembali ke-Indonesia-an ketika cita-cita nasional mulai terdistorsi. Atas dasar itu, Muhammadiyah sebagai salah satu elemen bangsa dan gerakan intelektual ikut bertanggungjawab atas kemunduran bangsa ini.

Muhammadiyah juga harus mengevaluasi diri terutama memasuki abad baru. "Tidak mungkin Muhammadiyah yang seratus tahun lalu bisa tetap sama dengan yang sekarang," katanya.

Revitalisasi Muhammadiyah sebagai bagian dari masyarakat madani ini menjadi agenda penting bagi Muhammadiyah yang akan melaksanakan Mukatamar ke-46 di DI Yogyakarta, Juli 2010. Acara itu juga menjadi abad baru bagi Muhammadiyah yang genap berusia 100 tahun pada tahun ini.

Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim, Prof Syafiq Mughni juga menilai Muktamar yang digelar tahun depan merupakan yang paling strategis daripada muktamar-muktamar tahun sebelumnya. "Relevansi Muhammadiyah sebagai gerakan dakawah dan intelektual di tangah persoalan politik dan budaya akan kian dipertanyakan," ujarnya.