Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 04:49 WIB
Kakak Buronan Teroris: Kami Baru Sadar...
M.Latief | Selasa, 25 Agustus 2009 | 10:49 WIB
|
Share:
Rosdianah Dewi
Mohamad Syahrir alias Aing, pria kelahiran Jakarta 25 Juli 1968 ini bersuku bangsa Sunda. Mohammad Syahrir mempunyai ciri fisik tinggi badan 165 cm, bentuk kepala bulat, warna mata hitam, bentuk alis tipis, bentuk bibir tipis. Pria tersebut tidak mempunyai ciri khusus. Mohamad Syahrir memiliki paspor dengan no. A. 167383, nomor paspor tersebut masih berlaku. Pria tersebut memiliki dua alamat terakhir di Komplek Garuda Blok C1 No. 6 Rt. 06/16 Kp. Melayu Teluk Naga, Tangerang Banten. Alamat ke dua di Jl. Giring-giring II/04. Rt. 09/10 Sukmajaya. Depok Jakarta, Barat.
Foto:

TERKAIT:

DEPOK, KOMPAS.com — Penyesalan tampak begitu mendalam di wajah lelaki berusia 46 tahun ini. Ia sadar, peristiwa pada masa kini adalah akumulasi peristiwa pada masa lalu, yang membuatnya merasa berutang moral kepada adik-adiknya, terutama Mohamad Syahrir alias Aing dan Syaifudin Zuhri alias Udin.

"Pertumbuhan mereka tidak banyak saya amati karena setelah berstatus PNS pada tahun 1988 saya langsung menikah. Saat itu saya terbilang menikah muda sehingga lebih banyak mengurus keluarga dan kurang memerhatikan mereka," ujar Dermo Prihatno ditemui Kompas.com di kediamannya di kawasan Mekarjaya, Depok, Senin (24/8).

Pria kelahiran 17 Februari 1963 ini mengaku terus terang, bukan hanya dirinya yang sadar akan hal itu, melainkan juga ayahnya, Djaelani Irsyad. Pencarian terhadap Aing dan Udin terkait peledakan bom di JW Marriot dan The Ritz-Carlton membuat dia dan orangtua kandungnya itu shock.

"Shock karena setelah kejadian itu, baik saya maupun ayah saya baru menyadari, kenapa selama ini kami seperti tidak pernah menyadari ada yang terlewatkan dan perhatikan," ujarnya.

"Kami baru sadar, kenapa setelah menikah itu mereka berdua dan keluarganya tidak pernah menetap lama di satu wilayah, kenapa mereka selalu mengontrak rumah, kenapa setiap Lebaran tidak pernah lengkap berkumpul di Kuningan, kenapa sebagai kakak tertua saya jarang dikunjungi. Semua ini adalah akumulasi peristiwa pada masa lalu yang kini baru kami sadari," ujarnya.

Dermo mengakui, sosoknya sebagai seorang PNS pun cukup menguatkan alasan kedua adiknya itu membatasi diri untuk dekat dengannya. Bahkan, dengan ayahnya, Djaelani, yang juga seorang guru PNS itu, pun sama.

"Saya baru sadar, apa yang mereka lakukan dengan keyakinannya saat itu sepertinya memang tidak bisa berkompromi dengan birokrat, seperti saya dan ayah saya," ujarnya.