DEPOK, KOMPAS.com - Para teroris yang melakukan sejumlah aksi biadab peledakan bom di Indonesia memaknai jihad sebagai aksi bunuh diri. Ustadz Hilman Rosyad Syihab dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyayangkan pengertian jihad seperti itu.
Menurutnya, pengertian jihad tidak berubah sejak jaman Rasullulah yaitu mencurahkan seluruh potensi yang dimiliki oleh seorang Muslim untul menegakkan Islam atau Kalimat Allah, seperti kejujuran, keadilan dan kesejahteraan serta terhukumnya orang-orang yang berbuat maksiat.
"Katanya jihad itu melakukan perang-perang. Iya. Dilakukan juga oleh bangsa Indonesia di masa kemerdekaan juga pahlawan Mohamad Toha di Bandung Lautan Api. Tapi sekarang kan jaman globalisasi," tutur Ustad Hilman kepada Kompas.com di sela-sela Diklat DPW dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) se-Jawa Barat di Hotel Bumi Wiyata Depok, Minggu (23/8).
Di jaman globalisasi, ungkap Ustadz Hilman, pendekatan militer sudah tidak ada, kecuali di beberapa wilayah, seperti Palestina dan sekitarnya. Politisi PKS di DPR RI ini mengatakan masyarakat dunia sekarang tidak lagi melawan penjajahan dalam bentuk fisik.
"Tapi ada kebodohan, ketertinggalan, hedonisme yang menimbulkan perilaku anak muda yang menyimpang. Inilah yang harus kita perangi dengan curahkan potensi diri," terangnya.
Jadi bagaimana generasi muda sekarang bisa berjihad adalah dengan bersungguh-sungguh belajar, berbakti kepada orang tua, menggali potensi dan bakat diri serta meraih kesempatan beasiswa di manapun.
Dalam konteks kemiskinan, generasi muda bisa mengembangkan jiwa kepedulian, kesetiakawanan serta menghimpun kepedulian bersama untuk memberi bantuan kepada kaum miskin dan anak jalanan.
Dalam pergaulan bebas, generasi muda bisa membatasi pergaulan bebas dan mendekati komunitas yang baik, seperti Pemuda Mesjid atau organisasi mahasiswa sehingga setiap orang muda memiliki peluang yang lebih besar untuk berbuat baik. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah berjihad?
