JAKARTA, KOMPAS.com — Ai (37) masih ingat betul, betapa dirinya dan anak-anak Djaelani begitu akrab bergaul. Dengan Sabil Kurniawan atau Abing, misalnya, yang usianya hanya terpaut setahun lebih tua darinya atau dengan Muhammad Syahrir alias Aing atau Syaifudin Zuhri alias Udin.
"Biasa saja. Saya biasa main ke rumahnya atau sebaliknya. Cuma memang, yang paling menonjol penampilannya pada waktu itu adalah Aing dan Udin," ujar Ai mengenang masa-masa ketika duduk di bangku SMP.
"Pakai baju koko, celananya juga ngatung. Kalau main voli biasanya pakai celana training, tetapi adik-adik perempuannya tidak ada yang memakai cadar, pakai jilbab biasa saja," katanya.
Ai mengakui, bergaul dengan anak-anak Djaelani itu seperti tidak berbatas apa pun, termasuk soal fanatisme keagamaan. Bahkan, dengan kakak tertuanya, Dermo Prihatno atau yang akrab disapa Monos itu, Ai mengaku sangat senang lantaran perangainya yang kocak.
"Beda dengan Aing, ngomong-nya ketus soal apa saja, termasuk kalau menegur orang sehingga kalau yang tidak biasa bisa punya pikiran lain," tutur Ai.
Namun, tutur Ai, sikap, perilaku, dan pergaulan anak-anak Djaelani itu mulai berubah tatkala mulai ikut sebuah pengajian dengan sebuah komunitas yang tidak dikenalnya. Drastis, bahkan sangat terkesan menarik diri dari pergaulan. Hanya Dermo yang tetap tidak berubah.
"Dengan Aing mulai jarang teguran, dengan Udin juga begitu. Hanya saja, Aing bisa dibilang paling ekstrim perubahannya. Terus terang, waktu itu saya paling tidak mau berbincang frontal dengannya kalau soal agama, dia sangat keras, pakai celana pendek pun suka ditegur," katanya.
