JAKARTA, KOMPAS.com — Tak satu pun warga menyangka bahwa 2 dari 8 anak Djaelani Irsyad masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kasus bom JW Marriott dan Ritz-Carlton.
Di mata bekas tetangganya di Jalan Giring-giring II RT 09 RW 10, Sukmajaya, Depok II Tengah, Jawa Barat, itu, keluarga Djaelani Irsyad dikenal sebagai keluarga yang taat beragama.
Kiranya begitulah penuturan Sutarmanto (59), Ketua RT 09, saat ditemui Kompas.com di rumahnya yang hanya beberapa langkah dari rumah bekas keluarga Djaelani di Depok, Rabu (19/8).
"Djaelani itu di sini sesepuh. Di masjid pun sesekali menjadi imam," ujar Sutarman.
Djaelani punya delapan anak. Secara berurutan, kedelapan anaknya itu adalah Dermo Prihatno (DP), Anugerah (An), Muhammad Syahrir (Aing), Sabil Kurniawan (Abing), Syaifudin Zuhri (Udin), Sucihani, Subhi (Cu'i), dan Eri. Putranya yang ketiga, Mohamad Syahrir alias (Aing), dan kelima, Syaifudin Zuhri alias Udin alias Sole, menjadi DPO.
"Dibilang fanatik sebetulnya juga tidak. Biasa saja. Cuma sesekali terlihat ada pengajian di rumahnya. Biasanya pintu rumah ditutup rapat-rapat, gorden juga ditutup, jadi kami tidak tahu persis kegiatan di dalamnya, apakah seperti pengajian pada umumnya atau bukan, kami tidak tahu," ujar pensiunan polisi ini.
Djaelani berdomisili di Depok sejak tahun 1979. Saat itu Perumahan Nasional (Perumnas) Depok rata-rata baru ditempati. Menurut Sutarman, delapan putra-putri Djaelani ketika itu masih kecil dan remaja. Djaelani sendiri waktu itu menjadi ketua RT pertama di wilayah tersebut.
"Perangainya sangat halus karena memang ia sendiri seorang guru. Meskipun jarang keluar rumah, orangnya suka menegur orang lain. Anak-anaknya juga ramah. Mereka bergaul sebagaimana anak-anak lain sebayanya di sini," tuturnya.
Tahun 1996, Djaelani menjual rumahnya yang terletak di Jalan Giring-giring No104 itu. Dia lalu memboyong anak-anaknya pindah ke Kuningan, Jawa Barat.
Rumah bercat kuning itu sekarang ditinggali sebuah keluarga. Sutarmanto mengatakan, keluarga empunya tersebut adalah pemilik ketiga sejak Djaelani menjualnya.
"Tidak ada, di sini sudah tidak ada lagi keluarga ataupun sanak saudaranya," tandas Sutarmanto.
Terakhir, kata Sutarmanto, hanya Sucihani dan suaminya, Ibrohim, yang sempat kembali ke kawasan tersebut sekitar tahun 2003. Namun, keberadaan pasangan yang dikaruniani dua anak ini pun hanya bertahan selama enam bulan.
"Tidak tahu persis di mana. Bahkan, mereka pindah ke sini pun kami tidak tahu. Tahu-tahu, lho kok sudah mengontrak di sebelah," ujar Sutarmanto seraya menunjuk dinding rumah sebelahnya yang bernomor 179.
Diberitakan sebelumnya, DPO lain, Mohammad Syahrir, juga dikenal dikenal sebagai keluarga religius di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka tergabung dalam komunitas pengajian "khusus" di Kompleks Garuda, Kampung Melayu, Teluk Naga, Tangerang, Banten. Komunitas pengajian itu tertutup untuk warga lain.
