TANGERANG, KOMPAS.com — Di lingkungan tempat tinggalnya, keluarga Mohammad Syahrir dikenal sebagai keluarga religius. Mereka tergabung dalam komunitas pengajian "khusus" di Kompleks Garuda, Kampung Melayu, Teluk Naga, Tangerang, Banten.
Komunitas pengajian itu tertutup untuk warga lain. "Istrinya ikut pengajian yang wanitanya harus memakai jilbab besar, baju gamis panjang dan besar. Kalau tidak, tidak bisa ikut. Pak Syahrir-nya juga pakaiannya gamis gitu," ujar tetangga Syahrir yang lain, Sandy, yang ditemui di rumahnya, Rabu (19/8).
Menurut dia, pengajian itu hanya tertutup untuk kelompok tersebut. Jika pun ada pengajian keliling, pengajian hanya dilakukan di rumah anggotanya.
Syahrir adalah satu dari empat buron yang dicari polisi terkait kasus terorisme. Syahrir merupakan pelatih menembak jitu di Poso dan juga disebut sebagai pencari rumah singgah bagi Noordin M Top.
Pria kelahiran Jakarta, 25 Juli 1968, itu tidak memiliki ciri fisik khusus. Polisi hanya mendeskripsikan tinggi badannya sekitar 165 sentimeter, bentuk kepala bulat, warna mata hitam.

