TUBAN, KOMPAS.com - Seorang balita, Febriyanti (2,5) anak bungsu dari pasangan Juwari (35) dan Darsinah (35) warga Desa Belik Anget, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur lahir tanpa anus. Untuk membuang kotoran telah dibuatkan saluran buatan di bagian perutnya oleh dokter RSUD Dr Koesma, Tuban sejak lahir. Febriyanti dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya agar mendapatkan layanan dengan peralatan medis yang lebih memadai.
Namun kedua orangtuanya merasa tidak punya cukup biaya untuk berobat sehingga sampai kini Febriyanti tidak punya anus. Febriyanti sering mengeluh sakit pada perutnya. Ibunya, Darsinah tidak bisa berbuat banyak, Febriyanti hanya mendapatkan perawatan seada nya dengan cara diberi obat antiseptik dan bedak usai dimandikan.
Saluran buatan untuk membuang kotoran di perut Febriyanti dibungkus kapas dan plastik. Saluran buatan itu sering meradang dan bengkak karena infeksi. Saat Febriyanti menangis kesakitan, Darsinah mengalihkannya dengan mengoleskan minyak kayu putih di bagia n perut anaknya sampai diam.
"Meskipun tidak selincah anak lainnya, saya senang anak saya bisa bermain dengan anak lainnya. Tetapi bila dia mengeluh sakit di perutnya, saya sangat sedih," katanya, Senin (17/8).
Darsinah hanya berharap uluran dermawan untuk biaya pengobatan Febriyanti, agar si bungsu bisa tumbuh normal sebagaimana anak-anak lainnya. Kiriman uang dari ayah Febriyanti, Juwari yang bekerja di luar Jawa tidak cukup untuk menghidupi istri dan empat an aknya.
Agar bisa ditangani harus orangtua Febriyanti menyediakan dana lebih dari Rp 20 juta. Namun, karena tergolong miskin orantuanya tidak sanggup memenuhinya. Kami pernah bawa ke RSUD Dr Soetomo, tetapi kesannya tidak memberi kepastian berobat selama satu se tengah bulan waktu diulur-ulur. Jaminan kesehatan masyarakat miskin sepertinya kurang diperhatikan, kata Darsinah.

