Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 05:24 WIB
Penggerebekan Temanggung-Bekasi untuk Selamatkan Presiden
Wisnu Dewabrata | Rabu, 12 Agustus 2009 | 19:49 WIB
|
Share:

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Sejumlah anggota Tim Polisi Antiteror saat berusaha masuk ke salah satu rumah di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (8/8). Tembakan dan ledakan bom mewarnai penangkapan yang menewaskan teroris.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi penggerebekan (raid) oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror lalu di sejumlah rumah perlindungan (safe house) para teroris, baik di Bekasi, Jawa Barat, maupun di Temanggung, Jawa Tengah, diyakini lebih bertujuan menghentikan rencana lanjutan membunuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Keputusan untuk lebih memfokuskan diri pada upaya penyelamatan presiden tadi terpaksa harus dilakukan lantaran para teroris sendiri memutuskan untuk mengubah atau menggeser pilihan target mereka, dari yang tadinya masyarakat biasa (soft target) menjadi target yang lebih sulit (hard target) macam pejabat presiden. 

Penilaian itu disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Masyarakat Sipil Global Universitas Indonesia (Pacivis UI), Andi Widjojanto, Rabu (12/8), saat hadir sebagai pembicara dalam diskusi "Rahasia Negara dan Kepentingan Bangsa" yang digelar Jaringan Aktivis Pro Demokrasi di Jakarta. 

"Bisa dikatakan, begitu diketahui target teroris bergeser ke RI-1 (presiden), skala operasi (Densus 88)-nya menjadi lebih tinggi dan lalu diputuskan untuk langsung dituntaskan saja untuk membatalkan rencana penyerangan terhadap RI-1 itu. Aparat tidak mau kebobolan," ujar Andi. 

Andi lebih lanjut membenarkan, aparat lebih memilih mengambil langkah macam itu walau dipastikan akan berisiko semakin menyulitkan mereka mengejar dan menangkap gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top, dan juga anggota selnya yang lain. 

Keputusan yang diambil itu diyakini Andi juga sudah diketahui dan direstui Presiden Yudhoyono. Apalagi setelah operasi tuntas, Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri langsung menghadap dan melaporkan hasilnya ke presiden, yang kemudian menggelar jumpa pers tentang itu. 

Lebih lanjut Andi mengaku khawatir pascapenggerebekan kali ini Noordin akan semakin lihai dan ekstra hati-hati dalam menjalankan aksinya ke depan. Tambah lagi diyakini Noordin masih punya banyak sel dan jaringan teroris yang masih belum diaktifkan. Jumlah tersebut masih dapat bertambah lagi jika ditambah dengan para narapidana teroris yang telah dibebaskan, yang jumlahnya bisa mencapai ratusan lagi. 

Perlu diingat pula masing-masing anggota sel tersebut juga memiliki kemampuan untuk merekrut anggota baru. Baik Noordin maupun anggota jaringannya tadi diyakini Andi masih dapat dan mampu bergerak dengan leluasa serta tersebar di poros pergerakan dan aktivitas mereka, mulai dari Solo, Wonosobo, Semarang, ketiganya di Provinsi Jawa Tengah, dan kawasan Jakarta.