JAKARTA, KOMPAS.com — Rancangan Anggaran, Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (3/8), dinilai lebih rasional. Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR, Maruarar Sirait, mengatakan, asumsi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah lebih masuk akal.
"Yang pasti, saya melihat RAPBN 2010 lebih rasional. Saya bicara soal pertumbuhan. Selama ini asumsi pemerintah lebih sering meleset daripada BI. Contoh dalam APBN 2003-2008 sering meleset. Sekarang lebih konservatif 5 persen," kata Maruarar, setelah Rapat Paripurna Luar Biasa, di Gedung DPR, Jakarta.
Ia mengatakan, sebaiknya pemerintah memang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. "Artinya, lebih memperhatikan sektor riil kepada orang-orang kecil seperti nelayan, petani, dan buruh. Kalau guru sudah cukup diperhatikan, harapan kita bisa masuk ke wilayah nelayan, petani buruh, dengan subsidi maksimal," ujar politisi PDI Perjuangan ini.
Mengenai komitmen pemerintah yang tidak akan berutang kembali ke IMF, menurutnya, sudah cukup baik. Namun, ditambahkan Maruarar, seharusnya juga mempertimbangkan utang baru yang dilakukan saat ini. "Pemerintah harus transparan soal ini. Apalagi yields (imbal balik) kita sangat tinggi, dengan SUN yang mengkhawatirkan," kata Maruarar.

