JAKARTA, KOMPAS.com — Arina Rachmah, dua anak balitanya, dan Dwi Astuti Anggraeni (ibu Arina) saat ini di bawah pendampingan polisi wanita di Jakarta. Mereka ditangkap di Cilacap, Jawa Tengah, oleh polisi, Rabu (22/7), karena diduga mengetahui keberadaan buronan kasus terorisme.
Arina kini masih ditahan polisi di tempat khusus yang disesuaikan dengan keberadaan kedua anaknya. Pengacara Arina dan Astuti, Asluddin Hadjani, mengatakan, Arina, kedua anaknya, dan ibunya kini ditahan di suatu tahanan khusus di bawah asuhan lima polisi wanita.
”Anaknya yang paling kecil masih menyusui. Karena itu, kedua anaknya terpaksa ikut karena tidak mungkin dipisahkan dari ibunya. Mereka di tempat khusus bukan sel, anak-anak bisa bermain dan lari-lari,” tutur Asluddin kepada Kompas, Minggu (26/7).
Polisi menangkap Arina dan ibunya atas dugaan keduanya mengetahui keberadaan buronan terorisme. Polisi juga mencari-cari ayah Arina (suami Astuti) bernama Bahrudin Latif dan suami Arina bernama Ade Abdul Halim. Bahrudin dan Abdul Halim menghilang setelah penangkapan tersangka terorisme Saefudin Zuhri di Cilacap, 21 Juni. Zuhri sendiri masih kerabat Bahrudin. Zuhri diduga oleh polisi mengetahui keberadaan Noordin M Top.
Polisi kini juga masih mencari-cari Bahrudin dan Abdul Halim. Sempat disebut-sebut pula suami Arina tersebut (Abdul Halim) diduga sebagai Noordin. Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri, pekan lalu, juga pernah menyebut Brd (Bahrudin) sebagai mertua dari buronan polisi.
Menurut Asluddin, yang juga pengacara Zuhri, Zuhri mengenal cukup baik Abdul Halim. Namun, hingga pemeriksaan terkini, belum jelas apakah Abdul Halim tersebut benar Noordin. ”Pemeriksaan soal itu masih berlangsung intensif,” kata Asluddin.
Saat ini polisi juga masih menyidik dugaan keterkaitan Zuhri dengan kelompok yang bertanggung jawab di balik peledakan bom paralel dua hotel, JW Marriott dan Ritz-Carlton.
Sebelumnya, Zuhri ditangkap terkait pemasokan bahan peledak dan bom ke kelompok di Palembang yang diringkus pada 2008. Kelompok Palembang diduga kuat merupakan salah satu sel binaan Noordin M Top. Polisi meringkus 10 tersangka dari kelompok itu.
Selain itu, polisi juga mencurigai keterkaitan anggota (bekas anggota) kelompok Al-Ghuroba di Pakistan dengan kelompok yang bertanggung jawab di balik peledakan bom di Mega Kuningan, Jakarta. Al-Ghuroba adalah semacam kelompok diskusi mahasiswa Indonesia dan Malaysia. Salah satu bekas anggota kelompok ini adalah Gun Gun Rusman Gunawan, adik Hambali, yang ditangkap intelijen Pakistan pascapeledakan bom di JW Marriott pada 2003.
Dalam persidangan di Indonesia, terungkap, Gun Gun berperan mengorganisasi dana dari Pakistan, yakni dari tokoh Al Qaeda, Khalid Sheikh Mohammad, melalui keponakannya bernama Ammar Al-Baluchi. Ketika itu terungkap dana sebesar 50.000 dollar AS dibawa melalui kurir dari Pakistan ke Thailand, Malaysia, baru masuk Indonesia melalui Dumai (Riau).
Saat ini masih ada dua buronan berbahaya lain yang diduga terkait kelompok Noordin, yaitu Reno alias Teddy dan Upik Lawanga, yang cakap merakit bom dan terlibat kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah.
Taufan alias Topan
Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal (Pol) Sulistyo Ishak mengatakan, polisi masih menyelidiki Taufan alias Topan yang ditangkap polisi dari Kepolisian Sektor Panakukang, Sabtu, di Makassar, Sulawesi Selatan.
Sejauh ini tidak tampak keterlibatan Topan dengan aktivitas terorisme, khususnya terkait dengan pengeboman di Mega Kuningan.
Menurut Sulistyo, Topan ditangkap karena memiliki sejumlah identitas palsu. ”Dia punya lima KTP dengan nama yang berbeda-beda,” kata Sulistyo. Selain itu, polisi juga menemukan sejumlah kartu ATM dari berbagai bank dan kartu kredit pada Topan.
Ahmad Jenggot
Dari Cilacap, Jawa Tengah, dilaporkan, Ahmadi alias Ahmad Jenggot (37), warga Desa Sikanco, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, yang sempat dicurigai sebagai anggota jaringan teroris Noordin M Top, Minggu, akhirnya dilepas oleh Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Dari hasil pemeriksaan, Ahmadi tidak terbukti sebagai bagian dari jaringan teroris tersebut.
Minggu dini hari, Ahmadi dipulangkan ke desanya. Namun, ia menolak diwawancarai media. Tidak jelas pasti apakah ketidakbersediaan Ahmadi menjelaskan soal pembebasan dirinya karena dilarang oleh pihak tertentu atau karena kemauannya sendiri.
Sebelumnya, Selasa lalu, sepulang dari Lampung, Ahmadi melapor ke Kepolisian Sektor Nusawungu dengan diantar Kepala Desa Sikanco dan Kepala Dusun Sigaruh. Achmadi ingin mengklarifikasi soal kecurigaan aparat keamanan bahwa dirinya terkait dengan jaringan terorisme Noordin M Top. Pada Selasa malam, Ahmadi dibawa ke Kantor Kepolisian Daerah Jateng untuk dimintai keterangan. Namun, Kepolisian Daerah Jateng sempat mengklaim bahwa Ahmadi telah ditangkap.
Kepala Desa Sikanco Suparno menuturkan, sekitar delapan polisi mengantar kepulangan Ahmadi Minggu. Namun, Ahmadi tidak langsung dibawa ke rumahnya. Sekitar pukul 02.00, ia diinapkan di Hotel Arya Guna, Butuh, Banyumas.
”Menurut polisi, hal itu dilakukan untuk menghindari omongan tetangga. Jadi, ia tak langsung dibawa pulang,” kata Suparno.
Ahmadi sering berhubungan dengan Saefudin Zuhri ataupun Bahrudin Latif—yang kini dicari-cari polisi—tetapi sekadar sebagai sesama anggota pengajian. Bahrudin sendiri merupakan pendiri Pondok Pesantren Al-Muaddib di Cilacap. ”Kalau kegiatan-kegiatan lainnya, Ahmadi tak ikut-ikut,” kata Mansyur (32), adik ipar Ahmadi. (SF/HAN)

