Jumat, 1 Agustus 2014

News / Megapolitan

Ibrahim Masih Hilang

Kamis, 23 Juli 2009 | 07:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Polisi masih menelusuri keberadaan Ibrahim pascapeledakan bom secara paralel di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Apalagi, pihak keluarganya melapor kepada polisi telah kehilangan Ibrahim, penata bunga di Hotel Ritz-Carlton yang tiba-tiba menghilang sejak peristiwa itu terjadi.

Hal tersebut masih menyisakan misteri soal sosok Ibrahim atau Ibrohim sehingga polisi masih akan terus menelusuri keberadaannya. Apalagi, berdasarkan hasil uji forensik kepolisian, Ibrahim tidak ditemukan di antara jenazah di lokasi kejadian.

”Dia (Ibrahim) masih hilang sampai saat ini,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna, Rabu (22/7) di Jakarta Media Center, Bellagio, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Hasil penelitian tim Disaster Victim Investigation (DVI) menyatakan, uji deoxyribonucleic acid (DNA) yang dilakukan terhadap dua keluarga, yaitu keluarga Nur Sahid (di Temanggung, Jawa Tengah) dan keluarga Ibrahim (di Kuningan, Jawa Barat), dengan DNA potongan tubuh yang ditemukan di tempat kejadian perkara tidak cocok. Polisi kini menyebarkan sketsa dua wajah orang yang diduga pelaku bom bunuh diri.

Nanan mengatakan, sketsa yang dibuat berasal dari dua tubuh yang ditemukan di tempat yang berbeda, yaitu di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.

”Setidaknya pemilik tubuh ini (yang ditemukan di Marriott) pernah berada di kamar hotel itu,” kata Kepala Pusat Laboratorium Forensik Polri Brigjen (Pol) Eddy Saparwoko.

Secara terpisah, Direktur Humas Hotel Ritz-Carlton Jakarta Els Ramadhinta menegaskan, Ibrahim bukan karyawan hotel itu. ”Ibrahim adalah karyawan vendor, outsourcing, yang menata bunga di hotel,” kata Els.

Andi Suhandi (40), teman kerja dan satu kontrakan Ibrahim, mengatakan, rekannya tidak pernah bermasalah dalam pekerjaan. ”Saya terakhir bertemu pada Rabu (15/7) di Ritz-Carlton,” kata Andi, teman satu kontrakan di Jalan Ex Auri, Kuningan, Jakarta.

Andi menambahkan, sejak Minggu hingga Selasa, dia diperiksa polisi terkait hilangnya Ibrahim. Menurut Andi, Ibrahim pindah ke Condet, Jakarta Timur, sejak dua bulan lalu.

Dalam rangka penelusuran jejak Ibrahim, polisi telah menggeledah rumahnya di Jalan Cililitan Kecil, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa pukul 20.30-21.00.

Menurut Nawawi (70), tetangga samping rumah Ibrahim, polisi menggeledah semua ruangan, baik di lantai bawah maupun di lantai atas. Di tembok sisi selatan lantai dua rumah itu tampak satu sketsa bangunan gedung bertingkat. Di sisi kanan sketsa tergantung pula satu kaus oblong putih bertuliskan ”The Ritz-Carlton” dalam huruf hijau tua.

Salah satu petunjuk tentang siapa Ibrahim juga diketahui dari buku rapor SD-nya. Dia lahir di Jakarta, 6 Mei 1972, dan terlahir sebagai anak keempat dari ayah bernama A Rodhin Dja’far.

Menurut Nawawi, rumah itu mulai ditinggal kosong sejak dilanda banjir pada awal Februari 2007. ”Rumah itu kosong baru dua tahun,” katanya.

Dalam perkembangan lain, Sucihani, istri Ibrahim, di Kuningan, Jawa Barat, masih menanti kabar keberadaan suaminya itu. ”Kami belum mendapat kabar apa pun tentang keberadaannya,” kata Sucihani di Dusun Kliwon, Desa Sampora, Cilimus, Kuningan.

Ayah empat anak itu pindah ke Jakarta sekitar empat tahun lalu. Nama di KTP dan berbagai dokumen sekolahnya adalah Ibrohim, bukan Ibrahim, panggilan sehari-harinya.

Suci terakhir kali kontak dengan Ibrahim lewat telepon seluler pada Kamis (16/7). Saat itu Ibrahim tidak memberi pesan atau tanda-tanda apa pun. Ia hanya menanyakan tentang hari pertama anak-anaknya masuk sekolah.

Arina dan Tuti

Rabu pagi, polisi menangkap dua perempuan warga Cilacap, Jawa Tengah. Keduanya adalah Arina Rahma dan ibunya, Tuti. Kedua anak balita Arina juga turut bersama ibunya. Penangkapan polisi tersebut dilengkapi dengan surat penangkapan yang telah diterima pihak keluarga.

Ahmad Kholik, perwakilan Tim Pengacara Muslim, menyebutkan, dalam dua surat penangkapan yang ditandatangani oleh Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri Brigadir Jenderal (Pol) Saut Usman Nasution, tertera keduanya hendak diperiksa terkait dugaan memberikan bantuan bagi pelaku tindak pidana terorisme.

Arina merupakan anak Bahrudin Latief, warga Cilacap yang dicari polisi pascapenangkapan Saefudin Zuhri, Juni lalu di Cilacap. Polisi juga mencari pria misterius, suami Arina. Polisi dan warga mencurigai pria misterius itu sebagai Noordin M Top.

Menurut Kholik, Bahrudin sekeluarga pergi ke Yogyakarta dan Ngawi saat Zuhri—masih kerabat—ditangkap polisi. Ketika berada di Ngawi, Bahrudin pergi meninggalkan Arina dan Tuti, istrinya.

”Dia bilang mau kembali ke Cilacap. Keperluannya apa, istri dan anaknya tidak tanya-tanya lagi,” kata Kholik.

Nanan mengakui, polisi telah memeriksa sejumlah orang yang diduga terkait dengan jaringan Noordin M Top. Saat ditanya apakah yang diperiksa tersebut adalah Arina dan Tuti, Nanan mengaku belum mengetahuinya.

Hasil identifikasi tim DVI, dua jenazah yang diduga pelaku bunuh diri berciri sebagai berikut, jenazah di Hotel Ritz-Carlton berkulit sawo matang, berusia 20-40 tahun, tinggi badan sekitar 165 cm, dan berambut hitam-lurus-pendek.

Jenazah di Hotel JW Marriott berusia 16-17 tahun, berkulit putih, berambut hitam-pendek, dan tinggi badan 180-190 cm. Warga yang mengetahui identitas kedua orang dalam sketsa itu bisa menghubungi nomor telepon 0813-83950059/021-7256586.

Nanan juga menjelaskan, Mabes Polri telah menginstruksikan kepolisian wilayah untuk memperketat jalur-jalur transportasi angkutan orang dan barang yang selama ini diduga digunakan sebagai jalur masuk-keluar kelompok yang terkait dengan Jemaah Islamiyah. Termasuk di perbatasan Sulawesi Utara dengan Provinsi Mindanao, Filipina selatan, yang selama ini diketahui sebagai tempat pelatihan militer kelompok Noordin M Top.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS, Rabu, meminta agar para pengamat tidak berkomentar macam-macam mengenai pidato Presiden pascaledakan bom. (TIM KOMPAS) 


Editor :