Penjarohan, Ritual Unik Desa Cikakak - Kompas.com

Penjarohan, Ritual Unik Desa Cikakak

Kompas.com - 23/07/2009, 04:26 WIB

CIKAKAK, KOMPAS - Senin (20/7) lalu bernilai istimewa bagi warga Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, karena bertepatan dengan tanggal 26 Rajab. Pada tanggal tersebut, warga berkumpul merayakan haul Mbah Mustolih atau Eyang Hangweng Dewaji, leluhur pendiri desa sekaligus pendiri Masjid Saka Tunggal. Ritual yang mereka sebut sebagai Penjarohan.

Penjarohan berasal dari kata "jaroh", yang artinya ziarah. Intinya adalah penghormatan kepada leluhur yang telah mendirikan desa dan masjid Saka Tunggal yang sampai sekarang menjadi pusat kegiatan peribadatan dan sosial mereka. Dalam ritual itu, mereka juga memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang melimpah.

Ritual selalu dipusatkan di area Masjid Saka Tunggal, yang merupakan salah satu masjid tertua di Jawa Tengah. Masjid ini didirikan Mbah Mustolih pada 1288, atau lebih tua dibanding berdirinya kerajaan Majapahit, yang didirikan pada 1294.

Kegiatan utama dalam ritual tersebut adalah membuat pagar bambu untuk mengelilingi masjid dan area pemakaman Mbah Mustolih yang terletak 150 meter di sebelah selatan masjid. Tiap tahun, pagar bambu di dua tempat tersebut diganti. Mereka percaya, memperbarui pagar bambu di makam dan masjid akan memberikan cahaya baru bagi hidup mereka.

Sebelum ritual bersama membuat pagar, warga berziarah ke makam Mbah Mustolih. Makam tersebut terletak di sebuah bukit kecil. Ada sungai kecil yang harus diseberangi untuk menuju ke area makam. Ratusan kera terlihat di sekitar makam. Semua pengunjung makam harus mencopot alas kaki setelah menyeberangi sungai kecil itu.

"Orang sini menyebutnya 'jaroh' atau ziarah. Tujuannya bukan untuk menyembah leluhur karena yang wajib disembang itu hanya Allah. Kami berdoa kepada Allah, dan juga meminta leluhur di alam sana membantu memintakan kepada Allah," kata sesepuh Desa Cikakak yang juga tetua adat setempat, Sopani.

Oleh warga Cikakak, Mbah Mustolih lebih mereka kenal dengan sebutan Eyang Hangweng Dewaji. Nama tersebut mempunyai arti hanya Tuhan yang bisa disembah. Nama itu dipilih para lelulur Cikakak untuk menyebut Mbah Mustolih supaya warga setempat tak bertindak musyrik dengan menyembah makam.

Usai jaroh, Warga berduyun-duyun datang ke masjid mulai malam hari sebelum perayaan membawa batang bambu yang digunakan untuk membuat pagar. Bambu itu diambil di sekitar pekarangan mereka. Untuk membawa bambu itu, mereka harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah ladang, hutan, dan semak-semak.

Di Cikakak masih banyak tumbuh rumpun bambu. Sebagian wilayah desa ini masih berupa hutan, yang masuk wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Banyumas Barat. Bambu-bambu tersebut sebagian tumbuh di hutan.

Ada yang membawa bambu dalam bentuk lonjoran, dan ada pula yang sudah dibelah-belah, siap dipasang. Pagi harinya, usai salat subuh, kaum pria bergotong royong membuat pagar, sedangkan para perempuan memasak di dapur di tiga rumah adat yang ada di sekitar masjid. Tiga rumah adat itu ditempati keturunan Mbah Mustolih. Selain sebagai pemimpin adat, keturunan Mbah Mustolih juga merangkap sebagai imam atau juru kunci masjid.

Keperluan memasak pun dibawa oleh warga perempuan dari rumah masing-masing. Selesai membuat pagar, sekitar pukul 09.00, warga pun kumpul di rumah adat dan sekitar masjid. Mereka lalu berdoa bersama dan makan bersama di rumah adat dan sekitar masjid. Orang dewasa, remaja, dan anak-anak campur menjadi satu.

Pedagang mainan atau makanan kecil pun memanfaatkan keramaian itu untuk berjualan. Maka, tampaklah perayaan Penjarohan itu seperti pasar. Ratusan hingga ribuan warga Cikakak tumplek blek. Mereka menunggu acara selanjutnya, yaitu tumpengan.

Dua tumpeng setinggi setengah meter diusung dengan tandu. Setelah didoakan, tumpeng tersebut menjadi rebutan warga. Mereka percaya, mendapatkan bagian tumpeng tersebut adalah sebuah keberuntungan bagi hidup mereka.

"Kalau makan tumpeng katanya bisa rezeki lancar," tutur Rohimah (50), salah seorang warga yang ikut berebut tumpeng.

Rangkaian ritual Penjarohan itu ditutup dengan pengajian di Masjid Saka Tunggal. Dalam pengajian itu mereka kembali memanjatkan doa keselamatan kepada Tuhan agar selalu diberikan berkah dan keselamatan.  

 

Syukur dan ikhlas

Menurut Sopani, nilai inti dari ritual Penjarohan adalah rasa syukur dan ikhlas. Rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan kepada mereka, serta leluhur mereka yang telah berjuang mendirikan desa dan memberikan syiar agama. Ikhlas untuk saling memberi dan menerima kepada sesama manusia, serta terhadap apapun kehendak Tuhan Penguasan Jagat Raya.

Dengan rasa syukur dan iklhas itu, kebersihan hati kita terjaga. "Kalau memberi, ya jangan menyesal, harus ikhlas. Kalau tak ikhlas ya jangan memberi," kata Sopani.

Membawa bambu dan bergotong royong membuat pagar adalah wujud simbol syukur dan ikhlas itu. Mereka bersyukur atas kesehatan dan rezeki dari Tuhan yang memungkinkan mereka untuk terus berkumpul bersama dengan membuat pagar baru. Mereka ikhlas membawa bambu, makanan, dan tenaga mereka untuk diberikan dalam kegiatan desa.

Selain syukur dan ikhlas, nilai yang selalu dipegang teguh warga Cikakak adalah kejujuran, sederhana, dan pantang mengambil barang yang bukan haknya. Dengan nilai-nilai luhur yang masih belum luntur itu, budaya tradisional belum hilang di Cikakak. Selain itu, lingkungan alam sekitar mereka juga lestari. Hutan tak terjarah, dan sungai selalu mengalir jernih di desa mereka. Sebuah kearifan lokal yang bersumber pada keteguhan menjaga nilai leluhur. ( M Burhanudin)      

 

 

 

 

 

Editor

Close Ads X