YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilih atau golput pada pemilihan presiden lalu di DIY mencapai 29 persen atau 801.771 pemilih dari total pemilih dalam daftar pemilih tetap di DIY sebanyak 2,8 juta. Jumlah golput ini meningkat dibandingkan pada pemilu legislatif lalu yaitu 27 persen.
Jumlah golput pilpres ini pun tercatat lebih banyak dari perolehan suara pasangan calon presiden dan wakil presiden Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Jusuf Kalla-Wiranto di DIY, yang masing-masing memperoleh 563.998 suara dan 205.318. Bahkan, bila suara keduanya digabung pun masih dibawah golput yaitu 759.316.
Hal itu terungkap dari data Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DI Yogyakarta. Anggota Panwaslu DIY Heri Joko Setyo, Selasa (14/7) mengatakan, data tersebut diperoleh dari formulir C1 atau berita acara penghitungan suara dari setiap tempat pemungutan suara. Ini data versi Panwaslu yang dikumpulkan pengawas pemilu lapangan dan panitia pengawas pemilu kecamatan, katanya.
Heri mengungkapkan, angka golput diperoleh dengan mengurangi angka DPT dengan jumlah pemilih yang menggunakan hak. Pemilih yang memakai kartu tanda penduduk belum masuk dalam hitungan Panwaslu. Dengan demikian, menurut Heri, jumlah golput riil bisa lebih tinggi dari data Panwaslu. Sebab, pemilih ber-KTP tidak dimasukan dalam DPT.
Berdasarkan data Panwaslu DIY, persentase golput tertinggi ada di Kota Yogyakarta yang mencapai 34 persen, yaitu 115.620 pemilih dari total pemilih dalam DPT 341.845. Disusul Kulon Progo, jumlah golput 109.110 (32 persen) dari pemilih dalam DPT 344.850. Gunung Kidul jumlah golput nya 162.220 ( 28 persen) dari DPT 585.180, Sleman jumlah golput 212.954 ( 27 persen) dari DPT 795.129. Adapun di Bantul jumlah golput 201.867 (18 persen) dari DPT 713.893.

