JAKARTA, KOMPAS.com - Tak pantas lagi jika Partai Golkar dipimpin oleh 'orang tua'. Roda regenerasi partai yang akan berumur 45 tahun pada Oktober mendatang harus segera dijalankan sebelum tergerus persaingan dan tantangan permasalahan 'anak muda'.
Anggota Dewan Penasihat Partai Golkar Fahmi Idris angkat bicara ketika sejumlah kawan-kawan, nyaris seangkatannya berniat merebut kursi kepemimpinan partai berlambang pohon beringin ini pascapenyelenggaraan Pilpres 2009 lalu.
Hampir seminggu ini, indikasi kekalahan pasangan capres dan cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto makin menguat. Kemungkinan posisi JK sebagai Ketua Umum untuk digoyang pun makin kuat. "Seyogianya, Golkar ke depan jangan dipimpin oleh 'kakek-kakek' lah tapi oleh generasi muda karena masalah yang dihadapinya adalah masalah anak muda," ujar Fahmi ketika berbincang dengan Kompas.com dan satu media lain di kantornya, Jumat lalu.
JK dan Wiranto adalah pasangan capres dan cawapres yang diusung Partai Golkar dan Hanura. Rapimnas Golkar yang lalu memutuskan mendukung majunya JK sebagai capres meski tak sedikit pula pihak yang tak setuju. Tim Kampanye Nasional-nya dipimpin oleh Fahmi Idris.
Isu Munas Luar Biasa Golkar makin merebak dengan menguatnya indikasi kekalahan JK-Wiranto. Nama-nama seperti Aburizal Bakrie, Agung Laksono dan Surya Paloh mencuat. Namun Fahmi berharap justru nama dari generasi mudalah yang akan duduk di kursi ketua nantinya.
Meski enggan menyebutkan siapa saja orang muda yang berkompeten untuk maju, publik bisa melihat orang-orang tersebut kerap menjadi juru bicara pasangan JK-Wiranto atau aktif berpendapat di gedung dewan. Sebut saja nama-nama seperti Yuddy Chrisnandi, Poempida Hidayatulloh, Idrus Marham, Nurul Arifin, Meutia Hafidz atau Indra J Piliang. "Yang pasti punya track record, pendidikan yang baik dan konsep pemikiran yang baik serta mampu mengembangkan kemampuan bangsa," tutur Fahmi.
Bagi Fahmi, kemenangan kamu muda nantinya bukan hal yang mustahil asal kaum muda dalam Golkar mau bersatu dan kaum tua tidak terlalu ikut campur.
