Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 04:21 WIB
Pensiun Jadi Menteri, Fahmi Idris Akan Penuhi Impian Sang Ibu
Caroline Damanik | Senin, 13 Juli 2009 | 09:51 WIB
|
Share:

KOMPAS.COM/CAROLINE DAMANIK
Fahmi Idris

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah Kabinet Indonesia Bersatu berakhir nanti, Menteri Perindustrian Fahmi Idris punya rencana lain. Pria yang akan berusia 66 tahun pada bulan September mendatang ini ingin memenuhi impian sang ibunda yang sudah lama ditundanya. Apakah impian sang ibu itu?

"Ibu saya selalu bilang, belajar dan cari ilmu setinggi-tingginya. Itu yang belum saya selesai-selesaikan," tutur Fahmi kepada Kompas.com di ruang kerjanya di Gedung Departemen Perindustrian, Jumat (10/7).

Wajah Fahmi sempat serius ketika mengatakan impian ibunya itu. Namun, ia mendadak tergelak ketika mengingat masa kecilnya.

"Kata orang dulu saya nakal. Kalau saya nakal, bapak saya sering pukul pakai rotan. Kalau sudah begitu, ibu saya selalu panggil saya, beliau elus-elus kepala saya," kenang Fahmi sambil tetap tergelak.

Fahmi berencana melengkapi gelar kesarjanaannya dengan titel doktor. Pendidikan terakhir Fahmi sebelumnya adalah magister di bidang Hukum Bisnis dari Universitas Padjajaran Bandung.

"Kalau masih mungkin juga nantinya akan kembali mengajar di kampus," lanjut pria berkumis tersebut.

Jabatan terakhir Fahmi dalam bidang politik, dan masih dilakoninya, adalah Anggota Dewan Penasehat Partai Golkar dan Ketua Tim Kampanye Nasional pasangan capres dan cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto. Fahmi Idris mengatakan akan mengakhiri karier politiknya bukan lantaran merasa gagal membawa kemenangan bagi tim JK-Wiranto, melainkan memang karena generasinya harus lebih lapang dada untuk menyerahkan kepada orang muda.

"Tidak, tidak. Di Golkar saya tidak akan terlibat banyak lagi. Saya kan sudah kakek-kakek," ujar Fahmi sambil tersenyum.

Fahmi sudah merintisnya. Terbukti, setiap konfirmasi yang dibutuhkan dari kubu JK-Wiranto, nama-nama seperti Yuddy Chrisnandi, Poempida Hidayatullah, Indra J Piliang, dan Ali Mochtar Ngabalin yang sering ditunjuknya untuk menjumpai media.

"Saya hanya muncul kalau untuk mengonfirmasi hal-hal yang prinsipil," ungkapnya.