JAKARTA, KOMPAS.com — Tabulasi elektronik Komisi Pemilihan Umum (KPU) melalui pesan singkat (SMS) diragukan independensinya karena ditunggangi pihak asing. Demikian disampaikan Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow, Minggu (12/7). "Tidak boleh lembaga asing menunggangi KPU. Ini intervensi pihak luar," kata Jeirry.
KPU menggelar tabulasi elektronik melalui SMS yang merupakan hasil hibah dari lembaga asing Internasional Foundation for Electoral System (IFES). Mekanismenya, pengiriman data hasil pemilu dilakukan oleh KPPS di tiap-tiap TPS melalui SMS. Data yang dikirim masuk melalui server IFES kemudian baru disampaikan ke KPU.
Menanggapi hal ini, Jeirry kembali meragukan independensi hasil tabulasi ini. Ia mempertanyakan kepentingan IFES dalam pemberian hibah ini. "Mengapa mesti mengolah data ini tanpa KPU, padahal ini atas nama KPU. Ada kepentingan apa KPU, dan KPU dapat apa dari IFES? Apakah dari IFES ini bisa dipercaya dan independen. Belum tentu juga, siapa bilang IFES ini independen," ujarnya.
Diketahui, pusat tabulasi elektronik resmi ditutup dan tidak lagi ditayangkan di situs web KPU, www.kpu.go.id dan Media Center Kantor KPU, Jakarta. Padahal, ada sekitar 104.000 nomor ponsel yang telah teregistrasi untuk tabulasi elektronik via SMS ini. Hingga pusat tabulasi ini ditutup, suara yang masuk baru 18.902.132, dengan perolehan suara SBY-Boediono 61,7 persen, Megawati-Prabowo 28,6 persen, dan JK-Wiranto 9,8 persen. Ketika dibuka di situs web KPU, tertulis keterangan "Aliran data melalui SMS telah dihentikan 9 Juli 2009 pukul 18.40 WIB".

