JAKARTA, KOMPAS.com - Kekalahan JK-Wiranto dinilai karena Partai Golkar dan Partai Hanura tidak bekerja dengan baik. Mereka tidak mampu menjaga konstituennya pada Pileg kemarin untuk tetap mendukung JK dan Wiranto. Demikian diungkap Peneliti LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) Kurniawan Zen. "Hal ini menunjukkan pada pilpres kemarin tidak ada keterikatan yang kuat antara pemilih dengan partai. Yang lebih mempengaruhi adalah figur, dalam hal ini figur SBY," kata Wawan, sebagaimana ia biasa dipanggil, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis sore (9/7).
Lebih lanjut ia mengatakan berdasarkan hasil exit poll tampak bahwa para pemilih Partai Golkar pada Pileg kemarin ternyata 38,9 persennya memilih pasangan SBY-Boediono. Angka ini tidak jauh berbeda dengan pemilih Golkar yang mencontreng JK-Wiranto, sebanyak 41,0 persen. Sementara ke Megawati-Prabowo 8,8 persen. Kemudian, sebanyak 46,2 persen konstituen Partai Hanura lari ke SBY-Boediono. Hanya 27,5 persen saja yang setia memilih JK-Wiranto. Sedang Megawati-Prabowo mendapat 15,8 persen.
Apa yang dialami Partai Golkar dan Hanura ini, berbanding terbalik dengan Partai Demokrat dan Partai PDI Perjuangan. "Kedua partai ini memiliki konstituen yang setia," ungkap Wawan.
Sebanyak 80,4 persen konstituen partai berlambang bintang bersegi tiga itu setia memilih SBY-Boediono. Hanya 5,6 persen ke Megawati-Prabowo dan 3,3 persen ke JK-Wiranto. Senada dengan Partai Demokrat, PDI Perjuangan juga mampu menjaga konstituennya. Ada 74,6 persen konstituen PDI Perjuangan memilih Megawati-Prabowo dan hanya 12,8 persen berpindah ke SBY-Boediono serta 2,7 persen lari ke JK-Wiranto.
Lebih jauh, Wawan menuturkan keunggulan SBY selain karena Partai Golkar dan Hanura tidak bekerja dengan baik juga didukung oleh ketokohan dari SBY. Pada Pilpres 2004, lanjutnya, mereka yang memilih SBY-JK pada Pilpres ini 64,8 persen memilih SBY dan hanya 14,0 persen yang memilih JK. "Ini menunjukkan elektabilitas SBY jauh lebih tinggi dibandingkan JK," tutur Wawan.
