JAKARTA, KOMPAS.com — Partai Golkar tidak dapat menjadi partai oposisi meskipun kalah dalam pilpres dan pileg. Sebab, selama masa Orde Baru hingga masa reformasi sekarang, Golkar selalu menjadi partai pendukung pemerintah.
"Kalau saya simpulkan Golkar sebenarnya tidak dapat menjadi partai oposisi. Contohnya, pada tahun 1999 Golkar kalah. Saya sebagai Ketua Partai Golkar menyarankan agar menjadi partai oposisi, tapi tidak mendapat dukungan dan Golkar akhirnya menjadi partai pendukung (pemerintah)," ujar Ketua Tim Sukses Pasangan JK-Wiranto, Fahmi Idris, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (9/7).
Begitu pula pada tahun 2004. Dikatakan Fahmi, Golkar menjadi partai pendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. "Karakter Golkar memang seperti itu, ikut menata pemerintahan, bukan mengkritik atau meluruskan kebijakan-kebiajan yang diambil oleh pemerintah," tambah dia.
Meski begitu, apakah kali ini Golkar hendak belajar menjadi oposisi atau kembali menjadi partai pendukung pemerintah itu tergantung pimpinan Golkar. Ia mengaku, masalah ini belum dibicarakan karena proses penghitungan suara belum selesai.
