MAKASSAR, KOMPAS.com - Pasangan Capres dan Cawapres, Jusuf Kalla (JK)-Wiranto menang mutlak pada pemilihan presiden, Rabu, di Tempat Pemungutan (TPS) 64, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Gunung Sari, Makassar.
Pasangan nomor urut 3 ini meraih, 255 suara dari jumlah total pemilih sah 414, mengungguli pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, yang memperoleh 126 suara, dan Megawati-Prabowo dengan 33 suara.
Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Lapas Makassar, Bokhari, menyebutkan bahwa suara tidak sah mencapai 33 suara. "Ada 33 suara yang tidak sah, kebanyakan mereka mencentang ganda atau mencentang dua kandidat capres. Ada juga yang tidak mencentang sama sekali," katanya setelah menyelesaikan penghitungan suara.
Bokhari menyebutkan, hanya tiga narapidana yang tidak melakukan pencentangan, dua di antaranya karena sakit dan dirawat di Rumah Sakit Labuang Baji Makassar, satu lagi karena gila.
"Setelah perhitungan suara selesai sekitar pukul 12.00, KPPS langsung menyelesaikan administrasinya. Setelah itu akan dikirim ke Panitia Pemilihan Kecamatan," ujarnya.
Salah seorang napi, Ishak (34) mengatakan, dirinya salah satu yang memilih pasangan JK, dengan hati nuraninya. "Kita mau merasakan bagaimana dipimpin orang Sulsel, karena selama ini belum ada orang Sulsel yang jadi presiden karena dipilih langsung oleh rakyat. JK adalah simbol perdamaian dan kesejahteraan bangsa Indonesia," ucap pria yang mengaku divonis delapan tahun karena melakukan pembunuhan.
Meski memilih JK, pria yang sebelumnya bekerja sebagai tukang las kapal di Pelabuhan Makassar, tetap salut dengan SBY, yang dinilai berhasil membangun kembali kepercayaan bangsa ini setelah dirundung krisis.
"Kita harus memberikan penghargaan pada SBY-JK karena bagaimana pun mereka yang mengeluarkan bangsa ini dari krisis ekonomi dan keamanan. Mereka menjabat saat sedang krisis," tuturnya.
