KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
JK Temui Mantan Aktivis 1998
Minggu, 5 Juli 2009 | 02:42 WIB
LIN
Di atas pesawat sewa Fokker 100 Pelita Air Services, Sabtu (4/7) malam, calon presiden Jusuf Kalla mewacanakan desakan penundaan Pilpres jika Komisi Pemilihan Umum (KPU) tak dapat memperbaiki Daftar Pemilih Tetap (DPT) hingga Senin besok (6/7).
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Seusai menyelesaikan kampanye putaran terakhir di Jawa Timur, Minggu (5/7) dini hari, calon presiden Jusuf Kalla (JK) yang juga Wakil Presiden RI menemui sekitar 300-an mantan aktivis 1998. Para aktivis itu sebelumnya, pada Sabtu (4/7) sejak pukul 21.00 telah menunggu di Posko Mangunsarkoro.

Sembari duduk berhadap-hadapan dengan para mantan aktivis itu, Kalla menemui mereka di halaman posko. Bersama Kalla, hadir juga Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Pasangan JK-Wiranto, Poempida Hidayatulloh, Yudi Chrisnandi, dan Ali Mochtar Ngabalin.

Sementara itu, para mantan aktivis diwakili antara lain oleh beberapa juru bicara, seperti Eki Tarigan (mantan mahasiswa Universitas Kartanegara pada 1998), Uu (mantan Trisakti 1998), N Wirahadi, dan Firman. Pertemuan dengan Kalla berlangsung sekitar 25 menit.

Dalam kesempatan itu, para mantan aktivis mendesak JK sebagai wapres menunda pelaksanaan pemilihan umum presiden (pilpres) pada Rabu (8/7). Alasannya, masih ada masalah pada daftar pemilih tetap (DPT).

Sementara Kalla mengatakan, tim Partai Golkar sudah menemui KPU, Sabtu, sekaligus meminta perbaikan DPT kepada masing-masing partai. "Kita sudah memberi waktu hingga Senin. Apabila tidak bisa dipenuhi, ya, kita evaluasi atau kita tunda. Karena ini berbahaya, pilpres tanpa adanya DPT," ujar Kalla yang disambut tepuk tangan para mantan aktivis itu.

Rantai manusia

Selanjutnya, seusai pertemuan dengan Kalla, Eki Tarigan mengatakan, pihaknya berencana bermalam, kalau tidak, di Mangunsarkoro atau di Jalan Teuku Umar, kediaman capres Megawati Soekarnoputri.

"Kami merencanakan membuat rantai manusia sepanjang dari Jalan Mangunsarkoro hingga Teuku Umar. Rantai manusia ini sebagai bentuk demokrasi yang kami lakukan secara damai untuk memaksa kedua capres menunda pilpres karena masalah DPT belum terselesaikan. Masalah DPT menyangkut hak asasi paling dasar dari masyarakat yang mempunyai hak politik," ujarnya.

Lebih lanjut, Eki menjelaskan soal mengapa pihaknya meminta kedua capres, JK dan Megawati, untuk menunda pilpres. "Kedua capres ini yang paling besar dicurangi, khususnya dalam hal DPT," kata Eki.

Lalu, Uu menambahkan kalau gerakan para mantan aktivis itu tidak ada yang mendanai. "Ini sebagai sikap kritis kami melihat pemilu yang bukannya lebih baik tapi lebih jelek dari Pemilu 2004," demikian Uu.

Penulis: HAR   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.