JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah dua kali melakukan survei tentang elektabilitas ketiga pasangan capres/cawapres, Indonesia Development Monitoring mendapatkan kesimpulan elektabilitas JK-Wiranto naik, Megawati-Prabowo tetap, dan SBY-Boediono justru menurun.
Maulana Bungaran, juru bicara IDM, menerangkan, survei pertama dilakukan IDM pada 1-16 Juni 2009. Jumlah sampelnya sebesar 2.047 responden, confidence interval sebesar 2,17 persen pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. "Pada waktu itu, Mega-Pro mendapatkan 44,13 persen, SBY-Boediono sebanyak 30,43 persen, dan JK-Wiranto sebanyak 13,2 persen, sedangkan yang abstain 12,6 persen," ujarnya dalam konferensi pers hasil survei IDM mengenai elektabilitas capres/cawapres di Hotel Lumire, Jakarta, Sabtu (4/7).
Kemudian, survei kedua yang dilakukan 17 Juni sampai 3 Juli 2009. Survei tersebut dilakukan pada 3.700 responden dengan confidence interval sebesar 1,61 persen pada confidence 95 persen. Dengan jumlah populasi 170 juta dan penarikan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling.
Hasilnya, Mega-Prabowo berada di urutan pertama dengan mengantongi 44,82 persen, disusul SBY-Boediono sebanyak 27,5 persen, dan terakhir adalah pasangan JK-Wiranto 12,6 persen.
Maulana menerangkan, elektabilitas Mega-Prabowo masih dalam batas yang normal. Ia justru terkejut dengan meningkatnya elektabilitas JK-Wiranto. Menurutnya, hal tersebut disebabkan banyaknya sumbangan suara menjelang hari H. "Meski modal awal basis pendukung tidak sebesar dua kandidat lain, tapi menjelang hari H, pasangan itu mendapat sumbangan dari pendukung SBY-Boediono dan dari golput. Kalau pendukung Megawati-Prabowo relatif konsisten dan tetap," ujar Maulana.

