KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Penggunaan Energi Nabati Menghemat Anggaran Negara
Sabtu, 4 Juli 2009 | 11:49 WIB
KOMPAS/RIZA FATHONI
Petugas SPBU Pertamina di Jalan Pramuka, Jakarta, mengisi bahan bakar liquified gas for vehicle (LGV) Vigas yang baru diluncurkan PT Pertamina, Senin (17/3). Bahan bakar gas untuk kendaraan bermotor ini memiliki kelebihan, yaitu emisi yang ramah lingkungan dengan tekanan yang relatif aman, yaitu 8-12 bar.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengalihan penggunaan energi dari bahan bakar minyak fosil menjadi bahan bakar minyak biosolar yang diciptakan dari bahan bakar nabati (BBN) tidak memengaruhi ketahanan pangan nasional. Bahkan, kebijakan ini lebih dapat menghemat anggaran negara.

Demikian disampaikan Profesor Senior Institut Teknologi Bandung (ITB), Widjajono Partowidagdo, di Jakarta, Jumat (3/7).

"Penggunaan energi nabati sebagai pengganti energi minyak justru akan menghemat anggaran negara," kata Widjajono dalam diskusi peluncuran buku Migas dan Energi di Indonesia.

Lebih lanjut Widjajono mengatakan, penggunaan energi nabati lebih hemat karena dana yang dikucurkan dari pemerintah untuk impor dan pemberian subsidi minyak dinilai lebih besar dibanding pengadaan BBN di dalam negeri.

Di samping itu, cadangan minyak Indonesia hanya tinggal 3,7 miliar barrel dengan penggunaan satu juta barrel per hari yang berarti cadangan minyak itu hanya akan bertahan hingga sepuluh tahun ke depan.

Sebaliknya, "Pemberian subsidi untuk energi minyak menyebabkan kebocoran anggaran negara yang begitu besar," katanya.
 
Selain itu ia memaparkan bahwa Indonesia lebih banyak memiliki cadangan energi lain selain minyak, seperti batu bara, gas, coal bed methane (CBM), panas bumi, air, termasuk juga bahan bakar nabati (BBN).

Karenanya ketergantungan terhadap minyak perlu dikurangi mengingat cadangan minyak Indonesia sangat minim.

Indonesia masih mempunyai banyak lahan kosong yang harus dimanfaatkan untuk kebutuhan selain pangan, yakni energi nabati.

"Tentu saja, bagi rakyat miskin yang hanya mempunyai lahan yang sedikit memang lebih memprioritaskan kebutuhan pangan daripada yang lain, tapi bagi mereka yang kaya dan mempunyai banyak lahan yang tak terurus sebaiknya mengurus lahan mereka dan memanfaatkannya untuk kebutuhan energi bahan bakar," lanjutnya.

Kendati demikian, ia mengakui program energi nabati sampai sekarang tidak berkembang sebab kurang didukung oleh pasar, pendidikan, dan teknologi. "Bagaimana investor mau berinvestasi di sini kalau iklim investasinya tidak bagus," tuturnya.

Penulis: M3-09   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.