JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Eksekutif Pedoman Indonesia Fadjroel Rahman menilai, debat capres pada putaran ketiga masih sangat hambar. Bahkan, tidak ada gagasan inspiratif dan visioner. Juga masih terjadi pengulangan dan tumpang tindihnya isu yang diperdebatkan dalam dua debat capres sebelumnya.
"Namun, tetap saja, gagasan ataupun program yang ditawarkan menjadi lebih baik," ujarnya di Jakarta, Jumat (3/7) dini hari. Topik NKRI dan demokrasi yang diperdebatkan, menurut Fadjroel, lebih pas untuk dialog saja sehingga upaya moderator untuk menggali debat terbuka menjadi sia-sia.
"JK unggul tipis dari SBY karena kelugasan dan kesediaan berdebat. Mega tetap saja normatif," ujarnya.
Dari tiga kali debat capres, menurut Fadjroel, yang terbaik dan terfokus ketika dimoderatori Aviliani, lalu Anies Baswedan, dan yang terakhir. Tradisi debat memang harus menjadi pilar demokrasi Indonesia agar masyarakat lebih rasional dan argumentatif dalam berdemokrasi.
"Sejarah demokrasi sudah dibuat dan kita harus bisa memperbaikinya terus agar menjadi optimal," ujarnya.