JAKARTA, KOMPAS.com — Calon presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengatakan, transformasi suatu bangsa tidak seperti membalikkan telapak tangan. Terjadi dengan segera dan dalam waktu yang cepat. Oleh karena itu, menurutnya, perlu ada kinerja yang berkesinambungan.
"Sudah kita kerjakan tapi menyisakan pekerjaan rumah. Transformasi itu membutuhkan waktu, proses tidak seperti membalikkan telapak tangan, tapi kita sudah bergerak ke arah yang baik," demikian klaim SBY dalam sesi pemaparan visi dan misi pada debat capres terakhir, Kamis (2/7).
Terkait implementasi demokratisasi, SBY mengatakan, Indonesia perlu mengevaluasi kembali apakah dalam demokratisasi, sistem kabinet presidensiil masih bisa ditegakkan meski di tengah sistem multipartai. Dari segi rakyat, apakah rakyat makin sadar untuk berpartisipasi secara politik. Ia menilai bangsa ini perlu mengevaluasi apakah jumlah partai sudah cukup merepresentasikan pilihan rakyat.
Untuk otonomi daerah, SBY menyadari bahwa pekerjaan rumah pemerintah daerah pun belum sempurna. Mulai dari pemekaran sejumlah daerah yang masih jalan di tempat hingga tumpang tindihnya peraturan pusat dan daerah.
"Bagaimana kita meningkatkan sumber daya alam untuk pembangunan daerah tertinggal, pulau terdepan dan daerah perbatasan," tuturnya.
Semua ini akan menjadi prioritas yang akan dikerjakan jika dirinya dan Boediono terpilih sebagai pemimpin dalam pilpres mendatang. SBY menyatakan, dirinya sangat optimistis untuk meneruskannya.

