JAKARTA, KOMPAS.com — Dekan Fisip Universitas Gajah Mada (UGM) Dr Pratikno mengatakan, tak mudah untuk menjadi moderator debat, apalagi sekelas debat capres dan cawapres. Karena dalam kondisi ini, seorang moderator debat harus mampu mengolaborasikan fungsi akademik dan menghibur. Bagi seorang akademisi, menurut Pratikno, menghidupkan suasana untuk mengibur bukanlah hal yang mudah.
"Karena kita di-train sebagai akademisi kemudian harus menjadi entertainer. Itu bukan hal yang mudah. Dimensi show-nya itu sesuatu yang sangat berat," tutur Pratikno seusai rapat koordinasi dengan Komisi Pemilihan Umum, Rabu (1/7).
Dalam debat capres terakhir yang akan dilaksanakan di Balai Sarbini, Kamis (2/7) besok, Pratikno akan bertindak sebagai moderator dalam debat capres yang bertajuk "NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah". Pratikno mengaku lebih optimistis untuk memandu debat besok karena ditambahnya durasi debat.
"Visi misi dideret utuh baru ada commercial break," tutur Pratikno.
Pratikno mengatakan, awalnya konsep debat yang hendak diterapkan itu sifatnya full debat dan mengubah format pertanyaan. Namun, tidak diterima oleh ketiga tim pasangan calon. Pratikno juga menyadari publik memiliki ekspektasi besar bahwa debat terakhir besok akan menjadi debat puncak. Moderator ditantang untuk memunculkan perdebatan sejak dini.
Namun, debat akan dibuka setelah visi misi disampaikan dan ada pertanyaan provokasi dari moderator untuk lebih menajamkan perbedaan pandangan antarcapres. "Kita akan fokus mengomentari substansi kandidat, karena itu yang ditunggu masyarakat," tandas Pratikno.
Sebelumnya, Anggota KPU I Gusti Putu Artha mengatakan, ada enam pertanyaan untuk debat terakhir. Jumlahnya dua kali lipat dari debat-debat sebelumnya. "Format pertanyaan tetap pendek. Di urut pertanyaan sedemikian rupa sehingga konten pertanyaan terlihat," ujar Putu.

