JAKARTA, KOMPAS.com — Debat cawapres putaran kedua dengan tema "Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia", Selasa (30/6) malam, justru dinilai hambar dan kurang greget meskipun mulai ada percikan perdebatan. Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan, ketiga cawapres terjebak pada ulasan-ulasan yang normatif, penuh retorika, dan miskin program aksi.
"Alih-alin menawarkan langkah-langkah konkret, "sekadar" harapan pun mereka gagal memberikan," kata Burhanuddin, Selasa (30/6) malam, kepada Kompas.com.
Baik Prabowo maupun Wiranto, menurutnya, kurang realistis dan terjebak pada sapuan besar untuk menjawab problem-problem riil di sekitar isu kesehatan dan pendidikan. Sementara itu, Boediono dinilainya cukup baik dalam mendiagnosis masalah.
"Tapi ketika bicara solusi, dia sangat text book khas akademisi, less practical. Akibatnya, ketiga cawapres gagal menampilkan diferensiasi baik pada sisi gagasan maupun alternatif jalan keluar untk meningkatkan kualitas manusia," lanjut Burhan.
Secara keseluruhan, ia memberikan nilai C minus bagi ketiganya. Sedangkan pengamat politik UGM, Ari Sudjito, berpendapat, secara substansi dan gaya debat menurutnya lebih baik.

