JAKARTA, KOMPAS.com — Tayangan debat capres dan cawapres disisipi penayangan polling pemirsa terhadap ketiga kandidat yang tampil. Dari dua kali debat, polling SBY menempati posisi teratas, disusul dua kompetitornya, Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri. Anggota Tim Kampanye Nasional Mega-Prabowo, Arif Budimanta, mengaku tak terlalu risau dengan polling tersebut.
"Saya pernah baca ada kontes bagaimana jadi penyanyi sampai utang karena harus ngebom SMS. Saya tidak tahu apakah dalam polling (capres) ada pola yang sama," kata Arif, di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (26/6).
Ia mengatakan, tim Mega-Prabowo masih memiliki keyakinan jagoannya akan masuk ke putaran kedua dalam pilpres nanti. Bahkan, dengan percaya diri ia mengatakan, Mega-Prabowo berpeluang menang satu putaran. "Mesin partai kami cukup masif," katanya.
Pada ajang Debat Capres, Mega dinilai tidak bisa memanfaatkan kesempatan untuk memaparkan program kerjanya dan lebih terkesan adem ayem. Menanggapi penilaian ini, Arif berkilah, debat capres bukanlah ajang untuk memaparkan hal-hal yang bersifat teknis.
"Sebagai seorang presiden, ini kan presidential debate, bukan technical debate. Dia harus bicara dalam konteks paradigma, filosofis. Soal teknis, presiden nantinya kan dibantu para menteri. Presiden itu harus memberi inspirasi, ke mana negara ini mau dibawa," katanya.
Pada zaman Mega, ia mengklaim kondisi jauh lebih bagus dibandingkan masa pemerintahan SBY-JK saat ini.