JAKARTA, KOMPAS.com — Semua kandidat presiden, yaitu Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla, memiliki paham yang sama soal utang. Ketiganya berpendapat, setidaknya Indonesia belum akan cepat lepas dari utang. Namun, ketiganya sepakat, mereka akan memperjuangkan kemandirian Indonesia lepas dari utang jika mereka terpilih memimpin Indonesia dalam lima tahun mendatang.
Demikian terungkap dalam acara Debat Presiden yang berlangsung di studio Metro TV, Kamis (25/6) malam. Acara yang dipandu moderator Aviliani bertema "Kemiskinan dan Pengangguran". Ketiga capres ditanya, apakah mereka akan tetap berutang untuk menutupi defisit APBN.
JK yang mendapat kesempatan pertama mengungkapkan, pertama-tama ia akan melakukan efisiensi belanja nasional. Misalnya saja, ia sering menjumpai ada banyak kantor pemerintah yang begitu mewah dan mengonsumsi banyak listrik. "Saya mengkritik hal-hal ini," kata dia.
Selanjutnya, kalau ternyata efisiensi ini juga belum mampu mengurangi defisit, ia akan tetap menempuh langkah berutang, tetapi akan lebih mengutamakan utang luar negeri. "Namun harus diperhatikan, utang itu tidak boleh lebih dari 1,5 persen supaya kita punya kemampuan membayar.
Sementara itu, Megawati yang mendapat kesempatan setelah JK tidak menyatakan secara tegas bahwa pemerintahannya kelak, jika ia terpilih, tidak akan berutang. Ia hanya mengatakan bahwa Indonesia harus memiliki kepercayaan diri untuk sanggup membayar utang. Ia mengatakan akan mengupayakan kemandirian dengan meningkatkan sektor pertanian dan kelautan.
Selanjutnya, senada dengan Jusuf Kalla, SBY menjawab langkah pertama yang akan dilakukannya untuk mengatasi defisit APBN adalah melakukan efisiensi. Kalau tetap masih defisit, SBY juga sepakat dengan Kalla, langkah selanjutnya adalah mengambil utang, tetapi mengutamakan utang luar negeri. "Saya tidak sepakat dengan penjualan aset. Saya tidak setuju dengan privatisasi. Selama ini utang luar negeri kita turun, utang dalam negeri tumbuh," papar SBY.

